|
Undangan untuk Aktualkan “Ingatan Bersama” |
|
|
|
|
Written by I Suharyo
|
|
Sunday, 04 April 2010 |
Renungan Paskah
Setiap tahun umat kristiani merayakan Paskah dengan upacara yang lebih
kurang sama. Upacara dimulai dengan gereja yang tanpa cahaya, gelap,
sepi. Setelah lilin Paskah dinyalakan dan diarak masuk ke dalam gereja,
lagu pujian Paskah dinyanyikan, lampu-lampu gereja dinyalakan, alat
musik dan lonceng dibunyikan sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas
karya agung Allah yang membarui kehidupan.
|
|
Last Updated ( Sunday, 04 April 2010 )
|
|
|
Written by Rm. A. Setya Gunawan, Pr.
|
|
Saturday, 03 April 2010 |
Bersoraklah, nyanyikan lagu gembira
Bagi Kristus yang menebus kita
Bersyukurlah kepada Allah
Kita bangkit bersama Kristus
Pujian Paskah itu bergema di tengah malam sunyi. Nyala lilin yang
menghiasi perayaan Paskah mengusir kegelapan dan menjadi tanda
‘kemenangan’ atas dosa dan maut. Kita bersyukur karena Allah telah
membangkitkan Kristus dari alam maut dan menjadi yang sulung mendahului
kita masuk sorga.
|
|
Last Updated ( Sunday, 04 April 2010 )
|
|
|
Written by Romo Ferdinandus A Djaga Kota, CSsR
|
|
Thursday, 21 January 2010 |
24 Desember 2006, merupakan malam Natal pertamaku sebagai seorang imam.
Malam Natal ini merupakan yang berkesan dan melahirkan sebuah
penghayatan yang berbeda dari malam Natal yang pernah kualami. Setelah ditahbiskan tanggal 8 Agustus 2006, saya dipercaya menjadi
pastor rekan di Paroki Homba Karipit, Keuskupan Weetebula (Sumba). Umat
di paroki ini berjumlah 12 ribuan keluarga (ini baru yang tercatat) yang
terbagi dalam 8 lingkungan di stasi pusat dan 8 stasi. Stasi-stasi ini
berjarak mulai dari 5 km sampai dengan 25 km. Kondisi jalan juga
beragam; mulai dari yang beraspal sampai jalan tanah dan berlumpur serta
becek jika musim penghujan tiba.
|
|
Last Updated ( Sunday, 04 April 2010 )
|
|
|
”Tuhan itu baik kepada semua orang” (Mzm 145a) |
|
|
|
|
Written by Rm. A. Setya Gunawan, Pr
|
|
Thursday, 21 January 2010 |
|
Aneka permasalahan yang menerjang negara dan bangsa kita, disusul
kemudian dengan bencana di mana-mana, mengakibatkan keadaan negara kita
ruwet bagai benang kusut yang tak mudah terurai. Munculnya sosok
pemimpin yang diharapkan mampu mengurai benang kusut multikrisis di
negeri ini menjadi sebuah kemewahan yang ditunggu-tunggu masyarakat.
Kemewahan ini cukup sederhana, namun dalam realisasinya amatlah sulit
untuk diwujudkan. Meskipun era Reformasi telah digulirkan dan sekian
kali berganti pemimpin, rupanya harapan akan hadirnya pemimpin yang
kharismatis masih jauh dari kenyataan.
|
|
Last Updated ( Thursday, 21 January 2010 )
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 21 - 24 of 77 |