Home arrow Artikel arrow ROH KUDUS
ROH KUDUS PDF Print E-mail
Written by Rm. Ferdinandus Apolonius Djaga Kota, CSsR.   
Thursday, 21 May 2009
roh_kudus.jpgPada tahun 1998, dijadikan Tahun Roh Kudus oleh Gereja Katolik. Pada tahun ini, para pengikut Kristus didorong oleh Paus untuk merefleksikan dan menyadari peran Roh Kudus dalam hidup menggereja  dalam kesatuan dengan Bapa dan Putra. Selain itu pula, setiap perayaan Pentakosta, secara khusus, kita menjadi disadarkan bahwa yang menghidupkan kita semua adalah Roh Kudus yang adalah Roh Bapa dan Putra. Dan, sangatlah diharapkan bahwa setiap saat dalam kehidupan harian yang penuh dengan kesibukan, kita menempatkan Roh Kudus dalam sanubari yang menguatkan dan menjadi penolong kita.

Roh Kudus?
Mungkin, pada saat ini, kita kurang memikirkan atau bertanya mengenai keberadaan Roh Kudus (apa, siapa, bagaimana, mengapa, dan kapan?). Apa atau siapakah Roh Kudus itu? Mengapa Roh Kudus bisa dipercaya?  Bagaimana peran Roh Kudus? Dan Kapan Roh Kudus berkarya?

Pada saat ini disinyalir bahwa hal ini terjadi karena kita melihat, berbicara (ceramah, tulisan, khotbah, dan doa) dan berpikir lebih pada karya Allah Bapa mengasihi manusia sehingga merancang karya keselamatan dan perutusan Yesus Kristus yang mewujudkan karya keselamatan itu sampai pada manusia. Atau, karena kita sulit membayangkan “wajah” Allah Roh Kudus, dibandingkan membayangkan Allah Bapa sebagai Bapa Tua dengan rambut dan jenggot putih lebat bersama pancaran mata penuh wibawa kasih yang menyapa memanggil, dan Yesus, anak muda 30-an tahun dengan wajah simpatik berhiaskan rambut gondrong,  dengan mata penuh kelembutan  yang menyentuh, memberkati dan menghidupkan atau seorang pemuda yang wajah, tubuh hampir tak dikenal karena di lingkari korona duri yang menancap di kepala dan dihiasi oleh luka dan darah yang bagaikan menyelimuti tubuh telanjangnya di atas salib. Atau mungkin, seperti ikan yang tidak perlu lagi mencari di mana air karena ia hidup di dalam dan karenanya, demikian pula kita tidak mencari Roh Kudus karena kita hidup karena dan dalam Roh Kudus (pembenaran?).

Banyak dari umat Kristen, tidak lagi meragukan ke-Allah-an Roh Kudus dan kesatuannya dengan Bapa dan Putra. Kita percaya dengan sungguh-sungguh bahwa Roh Kudus adalah Allah. Kalau masih ada umat Kristen yang tidak percaya atau meragukan ke-Allah-an Roh Kudus, maka imannya dipertanyakan bahkan berbahaya sekali bahwa orang tersebut ada dalam situasi tidak beriman. Pemahaman ini berbeda sekali dengan orang yang mencari pemahaman tentang imannya dengan bertanya tentang Roh Kudus dan yang diharapkan membawa pada iman dan kebahagiaan yang lebih mendalam.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Santo Anselmus dari Canterbury yang mengatakan fides Quam Intellectum–iman mencari pemahaman. Santo Anselmus berpikir bahwa orang harus mempertanggungjawabkan imannya sehingga kebenaran iman tersebut dapat diakui secara sungguh-sungguh dan pasti. Sehingga, setelah beriman, orang didorong untuk mencari pemahaman. Demikianlah halnya, setelah kita beriman akan Roh Kudus, kita mencari pemahaman sehingga kita semakin meyakinkan diri bahwa iman kita sungguh-sungguh benar.  

Dengan keyakinan iman yang penuh kesadaran berkat terang akal budi yang diberikan oleh Allah, iman seseorang tidak akan pernah goyah. Dengan kata lain, orang yang imannya goyah kemungkinan besar disebabkan oleh pemahaman yang kurang. Dengan semakin yakin bahwa Roh Kudus benar-benar Allah yang menguasai dan menghidupi manusia, seseorang tidak mungkin meninggalkan imannya akan Roh Kudus ini. Bila Ia meninggalkan imannya ini, maka Ia menipu diri sendiri dan membutakan akal budinya. Yang paling parah yakni bahwa  pada maut.
           Matius 12:32 Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi
          jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang
          pun tidak.


Goncangan  dan jawaban pengakuan

Pada saat ini, pengakuan iman akan ke-Allah-an Roh Kudus terasa mudah. Namun, pada Gereja muda/awal kehidupan umat Kristen pengakuan iman ini mendapat tantangan yang berat karena orang masih mencari bentuk pengakuan iman dan dasar dari iman yang ada (mis; bagaimana dan mengapa Roh Kudus disebut sehakikat dengan Bapa dan Putra?).   

Pada waktu itu, pada kalangan rahib di Mesir mulai tersebarlah pandangan bahwa Roh Kudus adalah makhluk ciptaan Allah yang tertinggi.  Di sini terlihat bahwa Roh Kudus dipandang sebagai ciptaan Bapa. Walaupun punya kedudukan tertinggi dari semua ciptaan, namun tetap saja, Roh Kudus dilihat sebagai ciptaan. Ada sementara orang pula yang melihat bahwa Roh Kudus berada– kedudukannya–di tengah-tengah antara Allah dan makhluk ciptaanNya. Dalam posisi ini, Roh Kudus tidak boleh disembah sebab Dia hanyalah ciptaan. Salah satu alasan mengapa Roh Kudus dikatakan sebagai ciptaan adalah bahwa Roh Kudus adalah pemberian Allah pada manusia agar manusia ditolong untuk mewujudkan karya keselamatan,  atau memandang Roh Kudus bagaikan malaikat atau kekuatan, atau sebagai pembantu ilahi.  Bila kita menggunakan prinsip bahwa pemberian selalu lebih rendah dari yang memberi, maka kalau Roh Kudus adalah pemberian, tingkat/kedudukan/hakikat dari pemberian berada di bawah dari Sang Pemberi–pemberi dan pemberian tidak berada dalam tingkat yang sama.  Kesimpulan dari orang-orang yang menyangkal ke-Allah-an Roh Kudus adalah bahwa Roh Kudus tidak sehakikat dengan Bapa dan Putra  sebagai kesatuan Allah.

Keadaan ini sungguh memprihatinkan bahkan menggoyahkan iman akan ketritunggalan Allah, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.  

Para bapa Gereja (tokoh-tokoh Gereja perdana) mencoba menjawab pandangan-pandangan ini. Misalnya Atanasius berjuang untuk menjelaskan dengan tegas bahwa Roh tidak dapat diceraikan dari Anak dan anak tidak terpisahkan dari Bapa. Justru oleh Roh Kudus-lah kita dipersatukan dengan Allah. Atau pernyataan lain yang mengatakan bahwa  Roh Kudus tidak dapat dimengerti lepas dari Bapa dan Putra. Atau Basilius melihat bahwa walaupun bahkan kalau saja dalam Kitab Suci tidak ditulis dengan sangat jelas tentang Roh Kudus sebagai Pribadi Ilahi, praktik yang ada dalam pembaptisan sudah menjawab Keilahian Roh Kudus.

Kemudian dalam perkembangan semakin jelas bahwa karya Allah di dalam dunia  hanya dapat disebut Ilahi sungguh kalau mempunyai dasar dalam diri Allah sendiri. Hal ini sangat nyata dalam tindakan penyelamatan Allah pada diri manusia. Dipercaya bahwa sumber segala rencana keselamatan ini adalah Allah Bapa; dan pengwujud/yang tampak dalam sejarah keselamatan dengan karya, sengsara, wafat, dan kebangkitannya adalah Putra; dan Roh Kudus adalah Sang Penghubung antara Bapa dan Putra juga menghubungkan manusia dengan Allah.

Dari Alkitab sendiri kita dapat melihat dan membaca bagaimana peran Roh Allah/Roh Kudus dalam seluruh pengalaman hidup beriman; baik yang terjadi pada Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kita dapat melihat dalam Kej 1 terlukiskan Allah yang tampil dalam Roh yang melayang-layang “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”

Atau  dari kitab Bilangan  24:2 yang mengungkapkan Kuasa Roh Allah
“Ketika Bileam memandang ke depan dan melihat orang Israel berkemah menurut suku mereka, maka Roh Allah menghinggapi dia. Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: "Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya;
24:4 tutur kata orang yang mendengar firman Allah, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa sambil rebah, namun dengan mata tersingkap.”
Amin

Romo Ferdinandus Apolonius Djaga Kota CSsR

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Last Updated ( Thursday, 21 May 2009 )
 
< Prev   Next >

Forum Komunitas

Friend Connect

Who's Online

We have 9 guests online

Jadwal Misa

Harian
  05.30 WIB
Sabtu
Sore
18.00 WIB
Minggu
Pagi
06.00 WIB
    08.00 WIB
  Sore 18.00 WIB
Jumat I
 
19.00 WIB
Pengakuan
30 menit sblm
Dosa
misa dimulai

Pesan Singkat