Home arrow Artikel arrow "Mengabdi Dengan Hati"
"Mengabdi Dengan Hati" PDF Print E-mail
Written by Veronica Ana   
Thursday, 21 May 2009
a_gesti.jpgCuaca malam begitu teduh ketika Litani bertandang ke rumah Ibu Anastasia Sri Sugesti, Ketua Lingkungan Santa Maria, Wilayah IX. Di lingkungan ini  ada sekitar 40 kepala keluarga. Rumah berpagar hijau di kawasan Cirendeu itu tampak asri dan tenang. Gesti, demikian ia biasa dipanggil, mengenakan syal merah malam itu karena sedang tidak begitu sehat. Walaupun begitu, senyum dan antusias selalu terpancar dari wajah ibu tiga anak ini dan nenek empat cucu ini.

Gesti lahir di Solo, 58 tahun yang lalu dengan ayah asli Solo dan ibu berasal dari Pekanbaru.  Ia tinggal dan besar di Solo sampai kelas II SMP dan pindah ke Sragen sampai ia bekerja. Di kota itu pula, ia bertemu dengan sang suami, Yohanes Sutanto (Almarhum) yang sudah menjadi temannya sejak SMP. Gesti kecil sangat aktif dan menyukai banyak hal,  ia aktif di kegiatan pramuka semasa sekolah.

Saat memutuskan menikah, ia pindah ke Jakarta tahun 1975 bersama sang suami dan bekerja di Departemen Pekerjaan Umum di bagian sekretariat. Ia masih memeluk agama Islam saat menikah. Di saat suami dan kedua anaknya yang saat itu masih berusia 2 dan 3 tahun sering pergi ke Gereja Santa Perawan Maria Blok Q di hari Minggu, ia merasakan panggilan. Perlahan-lahan ia mulai sering ikut pergi ke gereja walaupun tidak mengetahui sama sekali tata cara liturgi. Saat itu ia berpikir, akan lebih baik dan sejalan bila satu keluarga bersatu dalam satu iman.

Dengan kesadaran sendiri, ia mulai rajin pergi ke gereja dan mempelajari sedikit demi sedikit tentang iman Katolik, namun belum aktif di kegiatan komunitas gereja. Sekitar tahun 1982, Bapak Sembiring, salah seorang warga Katolik dan Romo Harso berkunjung ke rumahnya, peristiwa ini meninggalkan kesan yang mendalam dan membuat Gesti merasa benar-benar diterima di komunitas Katolik. Beberapa tahun kemudian ia pun dibaptis.   

Ketika Paroki Santo Stefanus mulai dipecah menjadi Paroki Rasul Barnabas, Pamulang, Gesti mulai aktif di kegiatan komunitas gereja. Dimulai dengan menjadi sekretaris pada Wanita Katolik Cabang Rasul Barnabas yang diketuai oleh Wiwiek Petrus Adibrata. Ia mulai menjadi Ketua Lingkungan Santa Maria tahun 2006, yang merupakan lingkungan pemekaran dari Santo Yusuf. Ketika itu, Romo Alphonsus Setya Gunawan Pr berkali-kali menelepon Bu Ceplis-panggilan khusus Romo Gun untuk Gesti-untuk memintanya menjadi ketua lingkungan. Ia meminta waktu berpikir sebentar karena belum merasa mampu mengemban tugas mulia tersebut. Ia berdoa dan berkonsultasi dengan atasannya saat itu yang kebetulan sama-sama wanita dan beragama Katolik. Dengan restu Tuhan, atasan, dan Romo Gun, ia mantap menjadi ketua lingkungan dengan catatan ia boleh meminta bimbingan dari romo dan dalam proses belajar. Ia tidak mempunyai visi dan misi khusus saat itu dan hanya ingin melakukan tugas sebagai ketua lingkungan dengan sebaik-baiknya.

Rumahnya yang berada di kawasan Cirendeu terkena imbas bencana jebolnya tanggul Situ Gintung pada Jumat, 27 Maret lalu. Pada malam sebelum musibah itu terjadi. Ia merasa tidak enak badan dan benar besoknya pukul 04.30 dini hari terdengar bunyi gemuruh dan air mengalir begitu derasnya. Beruntung, posisi rumahnya berada di dataran yang cukup tinggi sehingga tidak terkena banjir. Pagi itu ia menemukan wanita yang pingsan di depan rumahnya karena terbawa arus dan tak sanggup menahan terjangan air. Ia segera menolong wanita tersebut dan membawa ke dalam rumah beserta sekitar 10 korban yang merupakan tetangganya sendiri. Rumah mereka hancur diterjang air. Ia dan anak-anaknya segera mencari baju pengganti untuk para korban, menyiapkan teh manis serta makanan untuk para korban tersebut.

Hari itu juga Romo Gun menelepon dan menanyakan apa saja bantuan yang diperlukan, ia segera menjawab makanan, karena hari pertama susah sekali mencari makanan untuk para korban. Secara spontan, anak-anaknya membangun posko di depan rumah dengan meja dan kardus seadanya. Dengan kesigapan Gesti dan Ibu Wiwik, hari itu mereka dapat mengumpulkan 1.400 bungkus nasi yang dibagikan ke seluruh korban. Namun, karena kelelahan setelah seminggu bekerja keras sebagai relawan, Gesti harus masuk rumah sakit dan harus istirahat dari kegiatan yang menguras tenaga. Ibu Wiwik dan sang suami, Petrus Adibrata, sendiri bersedia berada dari pagi sampai malam di lokasi bencana selama hampir seminggu. Secara khusus, Gesti menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Wiwik dan Petrus Adibrata yang bersedia bersama-sama menjadi relawan. Mereka mendistribusikan semua sumbangan dari gereja kepada para korban. Untuk mendata korban, ia berkoordinasi dengan petugas RW setempat.
 
Selain membantu korban tragedi Situ Gintung, ia kerap membantu para tetangganya di kala terkena banjir rutin setiap musim penghujan utamanya banjir besar tahun 2002 dan 2005. Ia bekerja sama dengan para tetangga, baik Katolik dan non-Katolik untuk memasak dan membagikan makanan kepada para korban, bahkan para tukang sayur yang sayurnya dibeli, namun bersedia dibayar belakangan. Walaupun memiliki berbagai latar belakang, terutama agama yang berbeda, ia tidak merasa dikucilkan. Hal ini juga karena Gesti dekat dengan mereka.

Saat pensiun dari pekerjaannya di Departemen Pekerjaan Umum tahun 2008, selain mengurus cucu, ia lebih sibuk di berbagai kegiatan organisasi. Di gereja ia aktif di komunitas Warakawuri dan Wanita Katolik. Di lingkungan sekitar rumahnya sendiri ia aktif di arisan RT dan Posyandu. Ia tidak memiliki rencana khusus ke depan dan hanya ingin menikmati hidup di masa tuanya. Ada dua hal penting yang selalu ia utamakan, keluarga yang sangat ia cintai dan mencintainya dan pelayanan kepada Tuhan serta gereja. Ketika Litani bertanya, cita-cita atau keinginan apa yang belum kesampaian sampai saat ini, dengan mantap ia menjawab, “Saya ingin sekali ke Lourdes….” Mudah-mudahan dengan segala pengabdian tanpa henti yang pernah diberikan, Tuhan mendengar dan mengabulkan keinginan ibu ini.  

Dengan senyum dan kehangatan Gesti mengantarkan Litani yang hendak pulang, ia menunjukkan halaman depan rumahnya yang dulu menjadi posko serta parit sebelah rumahnya yang hancur akibat bencana Situ Gintung. Ia melepas kepergian Litani sambil penuh perhatian memperhatian lampu jalan sebelah rumahnya yang ternyata mati. Terlihat sekali bahwa Gesti sangat memperhatikan lingkungan sekitar. Ia begitu spontan dan bekerja dari hati. Tanpa pikir panjang dan embel-embel visi misi yang terkadang membatasi ruang gerak seseorang. Semoga ada Gesti-Gesti lainnya yang tumbuh berkembang di Paroki Santo Nikodemus.

(Veronica Ana)
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Last Updated ( Sunday, 14 June 2009 )
 
< Prev   Next >

Forum Komunitas

Friend Connect

Who's Online

Jadwal Misa

Harian
  05.30 WIB
Sabtu
Sore
18.00 WIB
Minggu
Pagi
06.00 WIB
    08.00 WIB
  Sore 18.00 WIB
Jumat I
 
19.00 WIB
Pengakuan
30 menit sblm
Dosa
misa dimulai

Pesan Singkat