Batas antara hidup dan mati itu sangat tipis sekali, kita tidak tahu kapan bencana akan datang, seperti yang terjadi di Situ Gintung, Jumat dini hari, saat orang terlelap tidur dan sebagian sudah menjalankan aktivitas, tiba-tiba tanggul jebol yang menimbulkan korban manusia dan harta benda, kita turut berduka bagi mereka yang meninggal dan keluarga yang kehilangan orang-orang yang dicintainya, begitupun bagi Lingkungan Santa Maria, Wilayah IX, yang ikut menjadi korban, kita turut berduka bagi mereka, maka kita akan berdoa buat mereka yang meninggal dunia dan juga korban yang mengalami luka-luka serta membantu apa yang bisa kita berikan…demikian kata Romo Alphonsus Setya Gunawan Pr dalam misa pembuka pada Minggu pagi, 29 Maret 2009.
Peristiwa yang memilukan hati kita semua itu terjadi pada Jumat, 27 Maret, pukul 04.50, tiba-tiba air menjebol tanggul yang berdiri mengelilingi Situ Gintung dan menggelontorkan air sebanyak 2 juta meter kubik setara dengan 400.000 truk ukuran besar, menerjang apa pun yang dilaluinya, rumah dan penghuninya, kawasan 10 hektar pun luluh lantak karena air seperti ombak menggulung ke daerah yang lebih rendah, korban pun berjatuhan. Air meninggi sejak Kamis sore, karena hujan deras menerpa kawasan Ciputat dan sekitarnya, menurut beberapa sumber hujan es pun terjadi saat itu disertai angin kencang, dari sinilah awal petaka dimulai, karenanya danau seluas 21 hektar sudah tidak bisa menampung air sebanyak itu apalagi tanggul hanya terbuat dari tanah, air situ yang berkedalaman 5-10 meter pun habis menggelontor ke permukiman yang memang lebih rendah. Data puncak hujan terjadi pada pukul 16.00 sampai pukul 18.00 WIB dengan curah hujan 22,6 milimeter per jam. Pukul 22.00 WIB air sudah melewati batas.
Yohanes Tugimin
Tampak dari kejauhan seseorang laki-laki dengan kulit legam sedang mengais-ngais serta membersihkan sisa-sisa lumpur yang sudah mengering dan melekat pada dinding rumah dan lantai, lelaki yang sudah tidak muda lagi dengan tekun dan tak kenal lelah terus saja menyingkirkan lumpur merah dengan peralatan cangkulnya, ia mengikis lumpur tersebut dan membuangnya pada tempat yang dia bawa, sesekali ia membersihkan peluh dengan menggunakan tangannya, siapa bapak ini….
Dia adalah Yohanes Tugimin, laki-laki kelahiran Yogya, pada 14 Agustus 1949, dia adalah satu-satunya korban bencana yang selamat dari runtuhnya tanggul Situ Gintung yang tercatat sebagai warga di Lingkungan Santa Maria, Wilayah IX, bencana datang tatkala dia selesai mandi pagi bersiap menuju tempat bekerja yang tak jauh dari kediamannya pada dini hari Jumat, bapak dua anak yang bermukim di Kampung Situ Gintung RT 04/08 No 51 ini sudah bermukim di kampung ini sejak 1988, dia membeli lahan kosong seluas 50 meter persegi dan membangun rumah dua lantai secara bertahap, lantai atas dengan dua kamar tidur terbuat dari tripleks, satu kamar belajar, dan kamar mandi, lantai bawah ada ruang tamu, dapur dan berdampingan dengan tempat makan. Keluarga bersahaja ini tinggal bersama Anastasia Pairah, istri, serta kedua anak laki-lakinya Mario Ekadanardono (21) saat ini kuliah di Sanata Dharma mengambil akuntansi serta Alexander Dwiatmiko (15) siswa kelas 3 SMP Charitas di mana sang ayah bekerja.
”Tatkala air datang disertai bunyi gemuruh saya mengira ini banjir, karena hujan sehari sebelumnya cukup deras melanda kawasan ini dan sudah biasa kalau daerah ini mengalami banjir, tetapi kok airnya semakin deras dan cepat sekali naiknya dan para tetangga berteriak-teriak meminta pertolongan sementara penerangan listrik mati-saya sedang menjemur handuk di lantai dua-saya membangunkan anak kedua yang sedang tertidur/anak pertama menuntut ilmu di Yogya, dan memanggil istri yang sedang mencuci pakaian di lantai satu, kami memutuskan naik ke lantai dua, tetapi saya turun kembali ke lantai satu untuk mengambil tabung gas di dapur serta surat-surat, karena air semakin deras dan juga menyembur melalui lubang WC, saya tak sempat membawa apa-apa, saya naik kembali, saya dan keluarga sempat bingung di lantai dua, mau kemana jika ingin menyelamatkan diri ini, rumah sempat bergoyang-goyang karena dorongan arus air, (keluarga ini mengira-ira bahwa sumber air dari Situ Gintung), akhirnya ada tangga terbuat dari kayu setinggi dua meteran di teras lantai dua yang berfungsi juga sebagai jemuran dan juga untuk keperluan mengganti genteng jika bocor, kami menggunakan tangga itu sebagai jembatan di atas atap asbes rumah tetangga di depan untuk menyeberang ke kebun di sebelahnya yang lebih tinggi kontur tanahnya, selamatlah saya dan keluarga….” kata Pak Tugimin sembari menyeka matanya disertai istri, Anastasia Pairah, saat Litani mendatangi rumahnya pada Minggu pagi, 26 April silam, Litani memang sengaja datang saat itu karena tak ingin mengganggu Pak Tugimin dan keluarga yang masih trauma dengan kejadian yang membekas padanya.
”Allah itu masih baik pada kami, kami diberi waktu sejenak untuk berpikir-di tengah kekalutan dan rasa bingung yang melanda-bagaimana menghindar dari bencana yang besar ini, ternyata ada petunjuk, ’gunakan tangga itu’ ya tangga itulah jalan menuju keselamatan bagi keluarga saya, kata Pak Tugimin yang bekerja sebagai petugas kebersihan pada SMP Charitas tak jauh dari tempat tinggalnya.
Setinggi 7 meter
Rumah dua lantai ini pun dilanda dan dikepung air setinggi tujuh meter, yang tampak masih membekas saat Litani berkunjung, dinding sebelah kanan rumah jebol karena derasnya arus air saat mencari dataran yang lebih rendah, seisi rumah rusak dan tak dapat digunakan kembali dari peralatan memasak, makan, kasur, meja-kursi, buku pelajaran anak-anak, bahkan banyak yang hilang diambil oleh orang-orang yang mencari kesempatan di kala banyak keluarga kena musibah, hanya pakaian yang melekat di badan saja yang bisa dibawa.

Pak Tugimin dan keluarga berpegangan erat satu sama lainnya saat menyeberang di atas atap asbes, sembari marayap-rayap, menggunakan tangga kayu menuju kebun kosong, tetapi kebun kosong itu pun sudah dipenuhi air sebatas dagu, dia berenang sebisanya supaya cepat tiba di dataran yang lebih tinggi dan juga supaya tak meminum air yang sudah pekat dan berlumpur itu, sampailah keluarga ini pada kebun kosong yang ditanami palawija.
”Saya bertiga bergandengan tangan terus hingga mencapai tanah yang belum terkena air, tatkala baru berjalan kira-kira lima langkah, ambruklah atap rumah itu dan temboknya, sembari ia menunjuk rumah yang dia gunakan untuk mengevakuasi istri dan anaknya,” katanya yang saat itu agak pusing kepala.
Secara geografis letak rumah Pak Tugimin berada di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, satu kilometer jaraknya dari sisi tanggul yang runtuh dan posisi rumah memang ada pada cekungan dan berada pada bidang bawah sekali dan diapit di sisi depan dengan tebing tinggi dan di belakang rumah ada saluran air beserta gedung Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Strategis
Pak Tugimin bersama keluarga dan tentu saja korban lainnya mengharapkan adanya uluran tangan dari pemerintah dalam hal biaya pembangunan rumah kembali dan juga kemudahan dalam mengurus surat yang hilang, dan jika direlokasi, dia mau yang dekat dengan tempat tinggal ini karena sangat strategis dalam beraktivitas ke tempat kerja dan juga jarak anak bersekolah dan sudah terjadi keakraban dengan tetangga di sini, katanya yang juga sudah menerima uang dari pemerintah untuk biaya hidup dan mengontrak rumah.
Saat ini keluarga Pak Tugimin menempati sebuah rumah kontrakan yang berjarak sepandangan mata dari rumah yang lama, tepat di belakang rumah ibu Anastasia Sri Sugesti, ia membayar Rp 383.000 per bulan, ”uang ini pemberian dari pemerintah, tetapi kami mengalami kesulitan saat membayar biaya kontrak, karena harus menggunakan uang sendiri dulu, setelah menerima kwitansi baru mengajukan penggantian ke pemda setempat,” katanya.
Tetapi, setelah bencana, Pak Tugimin mengungsi di satu kerabatnya di daerah Pondok Pinang selama seminggu, ”tetapi bapak ketua RT memanggil kami supaya jangan jauh-jauh tempat tinggalnya, supaya juga ada kontak dan bisa mengawasi rumah kami, sehingga kami mengontrak di daerah Poncol, tetapi ini jauh jaraknya dari rumah, sehingga sekarang kami mengontrak di tempat ini, kata ibu Anastasia Pairah yang berprofesi sebagi pembantu pada orang Norwegia ini.
“Walaupun begitu Tuhan masih melindungi keluarga kami, Tuhan masih sayang pada kami, masih baik pada kami, dan memberi kesempatan untuk kami bertobat….mengoreksi diri dan jangan lupa pada sang pencipta… saya sangat berterima kasih pada para penyumbang dan pada gereja yang begitu peduli pada penderitaan kami di sini….
(Chris V)
|