Home arrow Artikel arrow Sakramen Pertobatan dan Perdamaian
Sakramen Pertobatan dan Perdamaian PDF Print E-mail
Written by Aloysius K. Ruslim   
Thursday, 21 May 2009
tobat.jpgPada Injil Markus dikisahkan bahwa Yohanes Pemandi mengajar di berbagai daerah dan menyerukan kepada pendengarnya untuk bertobat dan dibaptis, supaya Allah mengampuni dosa mereka. (Markus 1:4). Termasuk Yesus menjadi salah satu pendengar Yohanes yang dibaptis (Ibr= dicelup) di Sungai Yordan. Aktivitas Yohanes rupanya mengundang masalah. Patut diduga bahwa Yohanes bekerja cukup lama (untuk beberapa tahun), sehingga menimbulkan kebencian para pemimpin agama Yahudi. Ia pasti dituduh bidaah atau penghujat Allah orang Yahudi, karena banyak orang Yahudi–khususnya penduduk Yerusalem dan daerah Yudea–yang mengakukan dosa mereka kepadanya dan memberikan diri mereka dibaptis. Artinya mereka mulai meninggalkan hukum Taurat Musa.  Maka, ia harus ditangkap dan dihukum mati.

Sesudah penangkapan Yohanes di Yudea, Yesus pun mulai mengajar di daerah Galilea di utara. Iapun menyerukan kepada pendengar-Nya untuk bertobat dan percaya kepada diri-Nya (Injil Allah) karena kerajaan Allah sudah dekat (Markus 1:15).

Kedua peristiwa di atas menunjukkan bahwa penduduk Yahudi saat itu banyak yang hidup tidak sesuai dengan ajaran yang benar dan agar mereka mulai mengikuti kerajaan Allah yang benar.

Peristiwa itu berlangsung sampai saat ini, yakni setiap orang harus mengakui dosanya lebih dulu agar pantas masuk ke dalam kerajaan Allah dengan menerima pembaptisan. Dengan pembaptisan kita telah menjadi suci, telah dikuduskan, dan telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah (1 Kor 6:11) dan  karena kita telah menjadi anak Allah di dalam iman kepada Yesus Kristus (Gal 3:26). Maka, tentulah tidak pantas lagi kita hidup dalam dosa. Tetapi, kita adalah manusia biasa yang cenderung lemah, maka Rasul Yohanes menulis, adalah menipu diri kalau kita berkata bahwa kita tidak berdosa (1 Yoh 1:8). Oleh karena itu, seharusnya kita mengakui dosa kita–seperti yang diajarkan Yesus sendiri dalam Lukas 11:4  di dalam doa Bapa Kami, “dan ampunilah kesalahan (dosa) kami…”. Selain itu, pertobatan yang tulus membuat kita menjadi kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya (Ef 1:4).
Berbagai nama diberikan untuk Sakramen Tobat dan perdamaian:
1.    Sakramen Tobat, karena orang yang bertobat, secara sakramental melaksanakan panggilan Yesus untuk bertobat (Markus 1:15).
2.    Sakaramen Pemulihan, karena ia yang bertobat, melakukan langkah pemulihan hubungan yang sudah renggang maupun terputus dengan Allah.
3.    Sakramen Pengakuan, karena ia mengaku dosanya kepada imam, serta mengakui, menghargai, dan memuji kekudusan Allah dan kerahiman-Nya terhadap orang berdosa.
4.    Sakramen Pengampunan, karena melalui absolusi oleh imam, Kristus secara sakramental menganugerahkan pengampunan dan kedamaian kepada yang bertobat.
5.    Sakramen perdamaian, Ia memberikan cinta Allah yang mendamaikan. “… berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Kor 5:20), atau sebagaimana yang diajarkan Yesus, ”Sebab jika engkau …. Tinggalkanlah persembahanmu di …. Dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, dan kembalilah….” (Matius 5:23-24)

Pertobatan yang dikehendaki Yesus adalah pertobatan hati/batin, bukan pertobatan yang kelihatan oleh orang banyak seperti yang diajarkan Yesus “…jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, …” (Mat 6:1).

Tobat batin seorang Kristen dapat dinyatakan dalam cara yang sangat berbeda:
1.    Melalui puasa, doa dan memberi sedekah. Puasa adalah bentuk tobat batin kepada diri sendiri, doa adalah tobat batin kepada Allah, sementara sedekah adalah tobat batin kepada sesama. Lihat Mat 6:1-18.
2.    Perdamaian, bantuan bagi orang miskin, pelaksanaan dan pembelaan keadilan dan hukum, pengakuan kesalahan sendiri, teguran persaudaraan, pemeriksaan cara hidup pribadi, pemeriksaan batin, bimbingan rohani, dan lain-lain sehingga: sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba (Yes 1:18).
3.    Ekaristi dan pertobatan, karena di dalam ekaristi (ucapan syukur), Yesus sendiri mendamaikan kita dengan Allah.
4.    Pembacaan kitab suci, doa Bapa Kami, dan ibadat harian; merupakan kegiatan untuk menghormati  Allah dan merupakan tindakan kesalehan yang dapat menghidupkan roh pertobatan dan ikut membantu pengampunan dosa kita.
5.    Masa puasa setiap Jumat, retret, upacara tobat, dan ziarah pertobatan.

Buah-buah sakramen pertobatan, pertama-tama adalah Tuhan memberikan kembali kepada kita rahmat-Nya sehingga kita berdamai dengan Dia. Kemudian timbullah kegembiraan rohani, karena kita boleh bersatu lagi dengan Allah. Lalu timbullah kebangkitan rohani dimana kita mendapat kembali martabat dan kekayaan hidup Kristus. Akhirnya adalah persahabatan dengan Allah. Berikutnya adalah perdamaian dengan gereja, karena kita diterima kembali dalam persekutuan gereja.

Perayaan sakramen pengakuan, adalah suatu kegiatan liturgi. Biasanaya terdiri dari: 1. Salam dan berkat iman; 2. Pembacaan sabda Allah untuk menerangi hati nurani dan membangkitkan penyesalan; 3. Ajakan untuk menyesal; 4. Pengakuan dosa secara perorangan di depan imam; 5. Penyampaian dan penerimaan penitensi; Pengampunan (absolusi) oleh imam; Pujian sebagai tanda terima kasih dan pengutusan dengan berkat imam.

Sakramen pengakuan dapat juga diadakan dalam satu upacara bersama. Setiap orang mempersiapkan diri secara bersama untuk pengakuan dan secara bersama menyampaikan terima kasih untuk pengampunan yang diterima. Pengakuan dosa secara perorangan dan absolusi pribadi disisipkan ke dalam upacara sabda dengan bacaan dan homili, pemeriksaan batin, permohonan pengampunan, doa Bapa Kami, dan ucapan terima kasih bersama.

Dalam keadaan sangat darurat, dapat diadakan upacara perdamaian bersama dengan pengakuan dosa secara umum dan pengampunan umum. Misal pada bahaya maut mengancam dan tidak ada waktu bagi imam untuk mendengarkan pengakuan peniten; atau jumlah imam tidak sebanding dengan jumlah peniten. Namun, prasyarat untuk kondisi seperti itu mutlak wewenang Uskup setempat.

Sebenarnya, pengakuan dosa secara lengkap dengan pengampunan perorangan, adalah satu-satunya jalan normal untuk perdamaian umat dengan Allah dan Gereja, kecuali pengakuan dosa semacam itu tidak mungkin dilaksanakan baik secara fisik maupun secara moral, kecuali ada alasan-alasan kuat. Pengakuan pribadi adalah perdamaian yang paling nyata untuk perdamaian dengan Allah dan Gereja, karena Tuhan mendatangi setiap pendosa secara pribadi. Kata-Nya, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (Markus 2:5)
Tuhan memberkati Anda semua.

Sumber: Katekismus Gereja Katolik, cetakan II, tahun 1998.

(Aloysius K. Ruslim)
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Last Updated ( Thursday, 21 May 2009 )
 
< Prev   Next >

Forum Komunitas

Friend Connect

Who's Online

We have 11 guests online

Jadwal Misa

Harian
  05.30 WIB
Sabtu
Sore
18.00 WIB
Minggu
Pagi
06.00 WIB
    08.00 WIB
  Sore 18.00 WIB
Jumat I
 
19.00 WIB
Pengakuan
30 menit sblm
Dosa
misa dimulai

Pesan Singkat