Home arrow Artikel arrow MENYIMPAN
MENYIMPAN PDF Print E-mail
Written by Ign. Bambang Widodo   
Thursday, 21 May 2009
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya (Luk 2:19 dan 51)

bundamaria.jpgMenyimpan rahasia
Setiap orang pasti menyimpan sesuatu, entah menyimpan perasaan, entah menyimpan barang berharga, menyimpan suatu hal yang indah atau yang menyedihkan bahkan traumatis atau kejadian tertentu dalam hidupnya yang kemudian menjadi rahasia pribadi atau rahasia keluarga.

Sesuai dengan namanya menyimpan “rahasia” tentu ada sesuatu hal atau masalah tertentu yang pernah dialami dalam hidupnya, biasanya bukan peristiwa hidup yang membahagiakan yang dirahasiakan, tetapi peristiwa yang menyedihkan, aib atau karena masalah dalam keluarga misalnya menyimpan WIL atau sesuatu keadaan yang memalukan bagi dirinya sendiri jika diketahui oleh orang lain. Wajar jika kemudian keadaan itu dirahasiakan dan itu lebih baik jika selalu tersimpan dalam hati seseorang, karena banyak orang yang tidak bisa menyimpan rahasia, baik rahasia pribadi maupun rahasia orang lain.

Sering kita dengar dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat, seseorang yang mengatakan kepada orang lain: “Mas-mas atau jeng-jeng, masalah ini bener-bener rahasia lo, saya hanya ngomong sendiri sama kamu, jadi jangan bilang-bilang atau kamu sampaikan ke siapapun.” Ternyata mulut orang itu lebih panjang daripada jalan raya, dan sesuatu yang dirahasiakan itu ternyata dalam waktu singkat sudah didengar oleh banyak orang dan akhirnya menjadi “rahasia umum”, kalau rahasia itu sampai diketahui oleh banyak orang, tentunya itu bukan rahasia lagi.

Rahasia pribadi biasanya disampaikan “hanya” kepada sahabat terdekat, kepada seorang pastor atau ke seorang dokter pribadi yang secara medis dipercaya untuk “menyimpan” penyakit apa yang dideritanya dan ikut berbagi beban, dengan harapan mereka dapat memberi terapi atau saran untuk mendapatkan jalan keluar dari suatu kemelut masalah yang dihadapi.

Menyimpan segala perkara

Dalam kaitan menyimpan rahasia tersebut di atas, tentu ada hal-hal yang berbeda dengan arti menyimpan segala perkara yang terjadi dan dialami sendiri oleh Bunda Maria, tetapi yang jelas penyelenggaraan Ilahi dalam kehidupan Bunda Maria, baik perkara yang bersifat rahasia atau perkara biasa, baik peristiwa yang membahagiakan maupun peristiwa duka yang dialami Bunda Maria tidak pernah diceritakan kepada orang lain, termasuk kepada Bapak Yosef, biarlah Allah sendiri yang menjelaskan segala perkara itu kepada suaminya, Bunda Maria hanya ingin merenungkan, mencerna apa yang menjadi rencana Allah baginya dan mempersilakan Allah untuk bertakhta dalam kehidupan pribadinya dan melaksanakan kehendakNya.

Bunda Maria adalah seorang wanita yang istimewa dan teladan terbaik bagi orang beriman karena kesetiaannya kepada Allah dan sikapnya yang taat kepada kehendak Allah. Maria adalah satu-satunya wanita yang oleh malaikat diberikan gelar “Yang dikaruniai dan yang beroleh kasih karunia dari Tuhan.”  

Meskipun terkejut, Bunda Maria menyadari bahwa peristiwa ini adalah karya agung Tuhan yang akan terjadi dalam kehidupannya dan Allah ternyata mempercayakan karya agungNya itu melalui perantaraanNya. Bunda Maria mempersembahkan diri dan hidupnya untuk menjadi “Pohon Kehidupan” yang ditandai dengan kehadiran “Buah dalam Rahimnya” yang ternyata adalah Putra Allah. Bunda Maria sanggup dan dapat menyimpan dengan baik segala perkara dalam hatinya. Segala perkara itu mulai terjadi dalam diri Bunda Maria sejak Allah menyatakan kehendakNya memilih Maria yang masih perawan untuk mengandung AnakNya, dan meminta kesediaan Maria menjadi Ibu yang akan melahirkan Anak Allah Yang Maha Tinggi (Luk1:32-35).

Kata “ya” sebagai pernyataan kesanggupan Maria terhadap rencana keselamatan Allah, hampir sama dengan rencana dan janji Allah yang disampaikan kepada Abraham (Kej 18:1-15, Luk 1:55). Tentu tidak semudah seperti yang kita semua bayangkan, pasti sungguh teramat sulit bagi Maria untuk percaya (Luk 1:34), mengatakan Ya bagi seorang perawan seperti Maria yang belum bersuami akan timbul pertanyaan dalam hatinya “bagaimana dan apa kata orang”. Kesanggupan Maria tentu bukan dari dirinya sendiri, tetapi diteguhkan oleh kuasa Allah melalui Roh Kudus, dan karena ketaatan “Imannya” (Luk 1:45) yang luar biasa kepada Allah, yang telah dimeteraikanNya melalui perantaraan Malaikat Gabriel.      

Bunda Maria tidak memaknai sebagai rahasia kehamilan dari Roh Kudus itu sebagai sesuatu yang membebani hidupnya, Maria menerimanya dengan senang hati “Hatiku bergembira karena Allah Juru Selamatku”. Semua yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kehendak Allah, maka sebagai manusia, Maria sungguh menyadari dan Ia mempersembahkan hidupnya serta menyerahkan segala perkara yang dialami dalam hidupnya ke dalam kuasaNya, dan bagi Allah segala sesuatu itu tidak ada yang mustahil. Ternyata Maria mengatakan Ya dan Mau kepada Allah dengan berucap “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMU itu”, seperti dalam Perjanjian Lama dikatakan: ”Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan” (bdk Kel 19:8).

Pernyataan kesanggupan Maria ini bukan saja memperlihatkan pernyataan iman, tetapi juga memperlihatkan kesederhanaan pribadinya dan kerendahan hatinya sebagai seorang wanita yang terindah di dunia. Sebagai manusia biasa, Maria adalah ciptaan yang paling mulia dan paling berkenan di hadapan Allah, Putri Sion inilah yang paling pantas bagi Allah untuk dipilihNya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari karya keselamatanNya, maka Maria menjadi Putri Allah Bapa yang dipercaya untuk menjadi ibu Yesus, PutraNYA. Secara manusiawi Yesus bagi Maria adalah “darah dari darahku dan daging dari dagingku” dan untuk itu Maria disebut Bunda Allah Putera, dan Tuhan Yesus di akhir hayatNya mengangkat Bunda Maria menjadi Bunda Gereja dan Bunda kita semua “Ibu, inilah anakmu, Inilah ibumu.”  

Karena keistimewaannya, Ia layak mengandung dari Roh Kudus, maka yang dikandung dalam rahim Maria adalah kudus, ‘Anak Allah’, dan Maria disebut sebagai Perawan tak Bernoda (Immaculata Conception), karena itulah Maria disebut juga sebagai mempelai Allah Roh Kudus, dan Kuasa Allah Yang Maha Tinggi menaungi kehidupan Maria. Pernyataan kesanggupan Maria itu juga merupakan mukjizat bagi umat Allah seluruh dunia, karena rencana Allah untuk melaksanakan Karya Keselamatan bagi umat manusia terlaksana melalui Maria. Dalam waktu yang hampir bersamaan Elisabeth pun menyambut kedatangan Maria dengan kata-kata yang indah “Terberkatilah di antara semua perempuan dan terberkatilah Buah Rahimmu”, dan sejak saat itu seluruh umat manusia menyebutnya sebagai ibu yang “berbahagia.”  

Secara manusiawi peristiwa-peristiwa tersebut sangat mengagumkan, saya percaya bahwa sejak itu “Maria menyimpan segala perkara dalam hatinya dan merenungkannya,” meskipun dalam Injil kalimat itu baru ditulis ketika para gembala datang menyembah sujud di palungan sebagai kesaksian yang benar seperti yang dikatakan oleh malaikat: ”Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan di kota Daud (Luk 2:19).”

Dan, peristiwa lain yaitu ketika Yesus berada di Bait Allah selama tiga hari, lalu setelah bertemu, mengatakan kepada orangtuanya: “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di rumah Bapaku (Luk 2:51).” Peristiwa-peristiwa hidup yang dialami oleh Bunda Maria, baik yang menggembirakan maupun peristiwa yang sedih yang akan terjadi sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Simeon,  selalu disimpan dalam hatinya dan menjadi permenungan dan kontemplasi dalam hidupnya.

Keikutsertaan Bunda Maria dalam misteri kehidupan Yesus Puteranya, menjadi suatu ikatan emosional yang paling dalam antara seorang ibu dan putranya, yang terlihat secara nyata bagaimana Yesus memperlihatkan mukjizat pertama “air menjadi anggur” di Kana atas permintaan BundaNya (per Mariam ad Jesum). Disini Injil memperlihatkan peranan Maria sebagai Bunda Pengharapan Abadi bagi setiap orang yang mencari dan merindukan Tuhan Yesus untuk bertemu denganNya dan mengabulkan semua doa permohonannya melalui perantaraan Bunda Maria. Tetapi, penolakan terhadap Yesus menjadi sumber penderitaan luar biasa bagi Bunda Maria sendiri, lihatlah bagaimana Bunda Maria dengan berlinang air mata mendampingi putranya menderita sengsara, memanggul salib di sepanjang jalan ke Golgota karena dosa dan pengkhianatan kita terhadap kasih Tuhan Yesus yang Maha Agung. Bunda Maria tegak berdiri dengan kepedihan hatinya yang paling dalam di bawah Salib Yesus (Yoh 19:25). Seperti ketika Yesus lahir ditimang penuh kasih sayang dalam pangkuan Bunda Maria, dan kini ketika Yesus wafat dengan ketabahan hati yang luar biasa yang diperlihatkan Bunda Maria ketika menerima jenazah Yesus dipangkuannya (pieta), inilah barangkali jawaban bagi Bunda Maria untuk segala perkara yang disimpannya dalam hati “pedang yang akan menembus jiwamu sendiri.”

Kita semua bisa meneladani Bunda Maria dengan mempersembahkan hidup dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan cinta yang sepenuhnya kepada Allah, untuk ikut serta melaksanakan karya keselamatanNya di dunia. Tuhan Yesus pasti berkenan memakai jiwa raga kita, karena jika kita mau dan kita selalu bersama Maria, Ia akan menjadi Bunda Penolong Abadi yang menghantar kita kepada Yesus (Cum Maria Ad Jesum). Devosi kepada Santa Maria Bunda Yesus akan menjadi pintu yang membuka aliran rahmat dari Allah dengan lebih deras dan berkatNya yang berlimpah, agar kita semua semakin dekat dengan Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus.      
Selamat ber-Devosi kepada Bunda Maria: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu (Yoh 2:5)

(Ignatius Bambang Widodo)
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Last Updated ( Thursday, 21 May 2009 )
 
< Prev   Next >

Forum Komunitas

Friend Connect

Kalender Liturgi

Who's Online

We have 4 guests online

Jadwal Misa

Harian
  05.30 WIB
Sabtu
Sore
18.00 WIB
Minggu
Pagi
06.00 WIB
    08.00 WIB
  Sore 18.00 WIB
Jumat I
 
19.00 WIB
Pengakuan
30 menit sblm
Dosa
misa dimulai

Pesan Singkat