|
Written by Rm. A. Setya Gunawan, Pr.
|
|
Tuesday, 02 June 2009 |
Hari Kelahiran Gereja
(Renungan 31 Mei 2009)
Saat Paroki kita menyelenggarakan ”Retret Akbar” th 2008 yang lalu, banyak umat merasakan bahwa ”Roh Kudus” benar-benar menggerakkan hati umat untuk berkumpul bersama dalam retret di lingkungan masing-masing. Tidak kurang dari 1200 umat mengikuti renungan dengan tekun dan khusuk untuk mendalami firman Tuhan yang menjadi sumber iman dan hidup kristiani. Banyak umat terbantu dalam doa dan merasakan kedekatan dengan Tuhan. Itulah Pentakosta yang kita alami sekarang ini.
Karya Roh Kudus dalam Gereja sejak awal telah menjadi nyata. Karya Roh Kudus telah menggerakkan dan merubah para murid Yesus, yang sebelumnya tak berdaya, tak punya semangat bahkan terbelenggu oleh kuasa setan, berubah total menjadi ’pahlawan’ Kristus dalam Gereja Perdana. Petrus dan Paulus yang menjadi rasul agung telah menjadi pondasi Gereja awal sehingga kesaksian dan kemartirannya telah memberi landasan kokoh bagi perjalanan sejarah Gereja hingga saat ini.
Pentakosta (bdk.Kis 2) yang diceriterakan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul, menjadi pengalaman nyata dari Gereja Perdana di mana umat katolik yang teraniaya pada zaman itu, tidak pernah menyerah begitu saja, tetapi semangatnya justru berkobar dan dengan gagah berani Petrus bersama murid lainnya berpidato dan memberi kesaksian bahwa ”Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini (Kis 2:32-33). Inilah Peristiwa Pentakosta yang dialami oleh para rasul. Mereka adalah saksi mata ’kebangkitan Kristus’. Berkat Roh Kudus yang dicurahkan atas diri para rasul, Gereja sebagai komunitas yang beriman kepada Kristus Tuhan telah resmi hadir di dunia ini. Mulai saat itulah banyak orang datang kepada para murid untuk dibaptis dan menjadi percaya kepada Kristus Juru Selamat. Maka hari Pentakosta merupakan detik-detik suci saat Gereja lahir di dunia.
Roh Kudus yang sejak awal dunia berkarya, sampai saat ini tetap berkarya dan menuntun manusia ke jalan kebenaran dan kasih. Berdoa dan merayakan Ekaristi di gereja dengan tekun adalah sebuah rahmat, saat itulah Roh Kudus menggerakkan kita untuk hadir dalam Ekaristi. Karya Roh Kudus dialami begitu kuat oleh seorang ibu saat mampu memberikan pengampunan kepada suaminya yang sudah lama dibenci. Rekonsiliasi itu begitu indah dan membahagiakan, itulah karya Roh Kudus yang nyata saat ini. Kesetiaan adalah karya Roh Kudus. Masih banyak kisah nyata yang bisa diceritakan di mana banyak orang menjadi kuat dan bangkit dari keterpurukan menuju kemanusiaan yang tegar.
Nyanyian dan doa novena Roh Kudus sungguh mengena dan memberikan semangat baru bagi seluruh manusia. Kita mohon ’Sapta kurnia Roh Kudus” dan bersama seluruh umat kita bermadah:”Datanglah Roh Ilahi, terangilah kami dengan sinar surgawi. Datanglah sumber kasih, pelipur hati sedih, pencinta tanpa pamrih. Kuatkalah yang lemah, bangunkanlah yang rebah, segarkanlah yang lelah. Sejukkanlah yang panas, giatkanlah yang malas, lembutkanlah yang ganas. Yang kotor bersihkanlah, yang kering siramilah, yang luka sembuhkanlah........... Kami mohon berkatMu agar setia padamu dan bahagia selalu” Amin.
Selamat menyambut kehadiran Roh Kudus. Semoga kita diperbaharui
(Romo Alphonsus Setya Gunawan, Pr)
|
|
Last Updated ( Tuesday, 02 June 2009 )
|