|
"TRITUNGGAL MAHA KUDUS" (kasih itu menyatukan) |
|
|
|
|
Written by Rm. A. Setya Gunawan, Pr.
|
|
Tuesday, 09 June 2009 |
(Renungan 7 Juni 2009)
Misteri terbesar dalam penghayatan iman kristiani adalah ”Misteri Tri Tunggal Maha Kudus”. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu mengungkap keberadaan Allah dan memang bukan itulah maksudnya kita merayakan pesta Tri Tunggal Maha Kudus. Kita tidak ingin menggali dan mengetahui secara mendalam eksistensi Allah sendiri, karena memang tidak mungkin. Merayakan Pesta Tri Tunggal Maha Kudus berarti merayakan ”Kasih Allah” yang sempurna, yang tidak bercacat, yang diperkenalkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri melalui sabda, karya dan seluruh hidupNya sampai pada wafat, kebangkitan dan kemuliaanNya ke sorga. Melalui Yesus itulah kita mengenal kasih Allah yang sempurna, sehingga saat kita bertemu dengan Yesus kita bertemu dengan Allah sendiri, karena dalam Yesus kehadiran Allah di dunia menjadi nyata. Allah itu begitu agung sehingga kehadiranNya dalam Yesus merupakan rahmat terbesar bagi manusia sehingga melalui Yesus itulah kita bisa mengenal sebagian kecil dari keberadaan Allah yang misteriNya disingkapkan oleh Yesus melalui seluruh kesaksian hidupNya di dunia.
Apa yang ingin kita rayakan pada pesta Tri Tunggal Maha Kudus ini? Umat katolik mau belajar bagaimana mengasihi Allah dan sesama seperti yang diajarkan Yesus kepada kita. ”Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12). Dan bagaimana Yesus mengasihi manusia diungkapan oleh St Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi: ”Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp 2:5-8). Itulah sebabnya Allah meninggikan dan memuliakanNya di sisi kanan Bapa.
Kesatuan antara Bapa Putra dan Roh Kudus begitu sempurna sehingga tak terpisahkan lagi. Kaih Allah itu menyatukan. St.Paulus menulis tentang kasih Ilahi : ”Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan”(1 Kor 13:3-8); Kasih Ilahi itu telah mendunia dan secara sempurna dilaksanakan oleh Yesus. Kita telah dibaptis dan berikrar untuk mengikuti Yesus dengan setia, maka kitapun mau berjuang sekuat tenaga untuk mengungkapakan kasih kita seperti Kasih Kristus yang Ilahi.
Marilah dengan rahmat Allah kita perdalam relasi kita dengan Tuhan dan sesama dengan kasih yang Ilahi, sehingga terwujudlah damai dan persaudaraan yang berkwalitas kristiani di antara kita dan sesama sehingga perbuatan dan tindakan kita selalu ”DALAM NAMA TRI TUNGGAL MAHA KUDUS”
Tuhan memberkati.
(Romo Alphonsus Setya Gunawan, Pr)
|