|
Berbagi Dalam Kebersamaan |
|
|
|
|
Written by Mia Wulandari
|
|
Thursday, 30 July 2009 |
Pagi itu terasa hangat dengan sang surya yang menyembul malu-malu. Wajah umat Paroki Santo Nikodemus, Senin, 29 Juni lalu, berseri-seri. Misa pagi pukul 05.30 sedikit istimewa, karena memperingati juga 27 tahun tahbisan Imamat Romo Alphonsus Setya Gunawan Pr yang jatuh pada hari itu. Misa dipersembahkan oleh Romo Gun – demikian sapaannya- didampingi Romo Ferdinandus A. Djaga Kota CSsR.
Umat hampir memenuhi bangku di dalam gereja. Tampak berbeda jika dibandingkan dengan misa harian setiap paginya tak lebih dari 30 orang yang hadir. Teristimewa pula, ada putra-putri altar yang bertugas misa pagi itu. Selesai misa dilanjutkan dengan sarapan bersama di halaman gereja. Rasa syukur dengan wajah berseri dan Romo Gun menerima ucapan dari seluruh umat yang hadir.
Selain peringatan 27 tahun tahbisan Imamat Romo Gun, pagi itu Putra Putri Altar “Santo Mikael” akan berangkat retret ke Padepokan Karang Tumaritis Lembang, Jawa Barat. Romo Gun melepas rombongan PPA dengan pesan agar anggota PPA dapat mengikuti retret dengan sungguh-sungguh dan semakin mencintai tugas-tugasnya.
Retret berlangsung 3 hari (29 Juni 2009-1 Juli 2009), sebanyak 38 anggota PPA mengikuti retret. Romo Carolus Putranto Tri Hidayat Pr atau Romo Putranto, turut dalam rombongan dan mendampingi retret kali ini. Romo Uut – panggilannya – di hari pertama memberikan materi tentang pribadiku sebagai orang Katolik dan bagaimana mengenal Yesus dengan lebih dalam. Beliau mampu membuat peserta aktif dan tak hanya diam.
Selain Romo Uut, ada 2 orang frater yang turut serta yaitu: Fr Antonius Yakin Pr dan Fr Wahyu Dwi Anggoro SJ. Sebelum materi yang disampaikan oleh Romo Uut, peserta diajak untuk mengenal diri, kekurangan dan kelebihan masing-masing dengan metode Jendela Jauhari oleh Fr. Wahyu. Meski baru tiba dan istirahat sejenak, peserta tetap semangat.
Sesudah makan malam peserta diajak untuk lebih dalam mengenal kehidupan, melalui Ibadat Jalan Kehidupan. Ibadat dipimpin oleh Fr Yakin. Para peserta dibagi dalam kelompok, setiap peserta ditutup matanya dan berjalan berpegangan dalam satu kelompok. Berjalan dalam hening dan mendengarkan petunjuk dari pendamping. Dalam perjalanan ada suara yang mampu menggoyahkan suara lain yang menyesatkan. Di sini peserta diuji untuk tetap menuruti suara pendamping dan bukan suara yang lain. Ada pula saat dimana peserta diminta untuk mengenali wajah teman yang lain dengan mata masih tertutup kain. Banyak yang tak berhasil, karena mereka kurang mengenal satu dengan lainnya.
Pagi yang cerah di hari kedua diawali dengan misa dipimpin oleh Romo Uut, dilanjutkan makan pagi. Ada hal yang menarik dari makan pagi ini. “saling melayani” demikian yang disampaikan olehnya, dimana peserta dibagi per pasang untuk mengambilkan nasi, sayur, dan lauk pauk kepada pasangannya. Masih terlihat banyak yang malu-malu untuk saling melayani.
Setelah Romo Uut menyampaikan materi akan tugas dan arti penting PPA, agar lebih mengerti tugas tersebut sebagai bekal hidup mereka, Fr Yakin mengajak “jalan-jalan” sekitar padepokan tempat retret. Bukan hanya sekadar jalan tanpa tujuan. Makna acara itu adalah membekali peserta untuk lebih mengerti bagaimana kehidupan dunia luas dengan tetap beriman kepada Kristus.
Alam yang indah, hamparan warna hijau luas terbentang di depan mata dengan lokasi yang berbukit tampak terasa jauh kalau dijalani dengan keluh kesah. Dalam kelompok mereka berjalan menyusuri bukit, berhenti di setiap pos yang telah ditentukan. Di setiap pos peserta diajak untuk semakin mempererat kebersamaan.
Sore menjelang ketika peserta kembali ke padepokan. Hari itu tibalah saat pertobatan. Mengakui segala kesalahan dan bertobat malam itu diawali dengan pembasuhan kaki peserta oleh Ibu Linda Muladi (Koordinator Sie Liturgi) dan Pak Martinus S Kartono (Pelatih PPA) sebagai perwakilan orangtua. Diharapkan semangat melayani dan senantiasa rendah hati dalam kehidupan peserta khususnya dan seluruh anggota PPA umumnya. Peserta juga diberi kesempatan untuk mengaku dosa. Romo Uut berkenan memberikan penitensi dan berkat bagi para peserta.
Sebelum istirahat malam, api unggun di pelataran padepokan sudah menyala, tanda kebersamaan lebih ditingkatkan, tidak ada jarak antara yang senior dan yunior, itulah harapan para pendamping. Dalam acara santai sempat terjadi ketegangan, acara yang dibawakan oleh Soni, membuat beberapa peserta menangis dan putus asa. Namun, semua itu adalah permainan saja, karena sebenarnya ada suatu kejutan bagi mereka. Pendamping menyiapkan bingkisan bagi anggota PPA yang rajin, di sinilah pemberian bingkisan tersebut. Dan, anggota PPA yang terpilih adalah Intan (kecil), Anna, dan Aya.
Tak terasa dua hari sudah dan esoknya adalah hari terakhir. Esok paginya diawali dengan misa kembali oleh Romo Uut. Pada hari ketiga sesuai rencana, diisi dengan kegiatan bebas/rekreasi. Acara bebas peserta hari ini menuju tempat tak jauh dari lokasi retret ke sebuah tempat permainan outbound. Sorenya rombongan kembali ke Jakarta dan tiba di Jakarta dengan selamat dengan sekeranjang oleh-oleh cerita dan niat baik untuk berubah.
(Mia WulandariI
|
|
Last Updated ( Saturday, 08 August 2009 )
|