' 1 TIMOTIUS BAB 6'
Sepanjang kehidupan manusia sejak zaman purba hingga pada zaman modern, semua orang membutuhkan uang sebagai alat penukar atau standar pengukur nilai, standar daya beli, standar uang dan atau garansi menanggung utang. Asal mula terjadinya uang tidak diketahui dengan pasti. Namun, diperkirakan terjadi secara lambat laun sebagai akibat dari adanya tuntutan perdagangan. Dahulu banyak jenis uang yang digunakan dapat berupa kulit kerang, batu-batuan, manik-manik, dan berbagai jenis alat tukar lainnya. Berkat kemajuan pergaulan dunia, kemudian digunakan logam mulia, terutama emas dan perak karena sifatnya yang tahan lama, menyenangkan dan nilai intrinsiknya tinggi.
Pencetakan uang logam oleh negara terjadi untuk pertama kalinya pada sekitar tahun 700 SM di Lidia, Asia Kecil. Sedangkan penggunaan uang kertas telah dikenal di China pada abad ke-9, sedangkan di Eropa baru dalam abad ke-17. Perdagangan antarnegara makin berkembang hingga berdirinya VOC (1602) di Jakarta (Batavia). Untuk melayani dunia perdagangan, pada akhirnya Pemerintah Belanda mndirikan De Javasche Bank NV dalam 1828 kemudian menjelma menjadi Bank Indonesia sejak 1 Juli 1953.
Uang dan Iman
Sesudah bertahun-tahun pertama yang ditandai dengan iman yang antusias, Gereja menemukan bahwa, bahkan untuk orang beriman, segala sesuatu akan lenyap kalau cinta terhadap uang berlangsung terus. Itulah drama yang terjadi di beberapa negara tertentu di mana kelompok-kelompok kristiani yang sudah mantap terbawa-bawa bersama seluruh masyarakat dalam upaya mengejar uang; iman tetap penting bagi mereka, tetapi iman ini hanya mendorong kesetiaan kepada ritus keagamaan. Uang yang sudah menjadi pegangan hidup kita akan mengurangi kepercayaan kita kepada Allah dan akan memisahkan kita dari orang lain.
Para pemimpin Gereja seharusnya menjadi yang paling sadar tentang bahaya ini, bagi mereka. Keselamatan menempatkan diri pada kawasan kehidupan yang kurang menjamin dalam masyarakat, di mana tindakan iman selalu dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan, dan menerima pengorbanan dengan gembira. Kita menjadi petugas Allah dan saksi Kristus, sebagaimana Dia sendiri telah menjadi saksi Allah, bukan dengan jalan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pribadi. (1 Tim 6:10-13).
Membayar Pajak pada Kaisar (Negara)
Pada zaman Yesus mewartakan Injil, Yahudi masih dalam penjajahan Kekaisaran Romawi, maka pajak yang dibayar orang Yahudi diserahkan ke kaisar. Orang-orang Farisi yang memihak Raja Israel, Herodes yang sebenarnya bermusuhan dalam politik. Maka, mereka mencobai Yesus, lalu berkata; “Guru, bagaimana pendapat Guru, adakah membayar pajak kepada kaisar itu suatu perbuatan yang melanggar hukum Taurat? Haruskah kami membayar pajak atau tidak?’
Yesus mengetahui gelagat mereka, lalu menjawab; ”Hai orang-orang munafik! Mengapa kamu mencobai Aku? Perlihatkanlah kepada-Ku sekeping dinar.” Mereka memperlihatkan sekeping dinar kepada Yesus lalu Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan kaisar.” Yesus berkata: “Oleh sebab itu, berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Dengan demikian uang itu tidak segala-galanya. Uang itu menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi kita wajib berimankan kepada Allah. Sebagai warga negara yang bijak dan taat hukum kita juga harus membayar pajak. Apabila tidak, apa kata dunia? Untuk itu kita wajib pula mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Apakah Anda sudah memiliki? Bila belum mempunyai NPWP, segeralah mengurusnya, supaya tidak merepotkan Anda sendiri di kemudian hari.
Apabila kita semua taat pada hukum dan membayar pajak, maka negara akan kuat juga warganya menjadi sejahtera, seperti diamanatkan Nabi Yeremia (Yer.Bab 29: 5-9) kepada warga Yahudi yang ditawan oleh pasukan Persia dan dibuang ke Babel, 27 abad yang lalu. Kalau boleh meminjam ungkapan Jawa, “Nglulureg tanpa bala, menang tanpa ngasorake”, kita merasa aman dan sentosa, hidup dalam alam damai penuh suka cita, tanpa perang antarsuku, bangsa dan agama, begitu pula hidup dalam “Gemah ripa, loh jinawi”, karena semua adalah ciptaan Allah Yang Maha Kuasa.
Semoga kita mencintai akan uang hanya terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga kita memperoleh kesejahteraan baik jiwa maupun jasmani bukan semata-mata untuk memupuk harta kekayaan dan melupakan akan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita. Dengan memiliki uang kita dapat memenuhi segala kebutuhan hidup sehari-hari, dan justru akan mempertebal iman kita kepada Tuhan Yang Esa. Kita harus bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Semoga !!!!!!
(Stanis Suban)
|