Ketua Lingkungan Santo Yusuf
Malam itu cerah sekali ketika Litani berkunjung ke rumah Ibu Florentina Yoneta Masiyem, yang biasa dipanggil Ibu Anton. Dua kali Litani bertanya pada tetangganya dimana rumah Bu Anton berada dan setiap orang yang ditanya, selalu kenal dengan ibu yang murah senyum ini. Ibu Anton tinggal di kawasan Rempoa, Lingkungan Santo Yusuf di Wilayah I. Lingkungan ini dihuni 36 kepala keluarga. Ia menjabat menjadi Ketua Lingkungan Santo Yusuf sejak empat bulan yang lalu. Ulang tahunnya sendiri bertepatan dengan tanggal ulang tahun Santo Yusuf.
Ibu Anton, atau yang dipanggil Iyuk sebelum ia menikah, lahir dan besar di Yogyakarta. Ia lahir dari keluarga penganut Muslim dan bersekolah di SD dan SMP negeri. Ketika SMA ia bersekolah di sekolah Katolik, dan disanalah ia bertemu dengan suaminya yang beragama Katolik. Ia memeluk agama Katolik, awalnya karena mengikuti pacar, yang sekarang menjadi suaminya. Kenangan yang paling ia ingat adalah saat ulangan umum, ia dan teman-temannya sering berjalan kaki untuk berziarah dan jalan salib ke Sendang Sono.
Kakaknya yang pertama lebih dulu memeluk agama Katolik. Dari tujuh bersaudara, tiga saudaranya Katolik dan empat tetap Muslim. Ketika ayahnya divonis menderita kanker prostat dan leukemia tahun 2000, ayahnya diberi sakramen perminyakan dan dibaptis, dan ajaib, sang ayah sembuh total serta sempat menikmati hidup selama lima tahun beragama Katolik. Walaupun awalnya Ibu Anton memeluk agama Katolik karena mengikuti orang lain, mukjizat yang dialami ayahnya membuat dia semakin mengimani Katolik dari hati. Selain itu, latar belakang keluarga yang plural membuatnya belajar bertoleransi sehingga ia bisa dengan mudah melebur dengan lingkungan sekitar rumahnya.
Mengikuti suami yang dipindah tugaskan, tahun 1994 Ibu Anton pindah ke Jakarta. Ia menempati rumah kontrakan berukuran kecil dengan peralatan seadanya dan merintis segalanya dari nol. Berbagai cobaan hidup yang ia alami, baik dari segi ekonomi dan masalah keluarga, membuatnya semakin mengimani Yesus dan Bunda Maria. Ibu Anton sering sekali berdoa Rosario dan selalu membawa Rosario kemanapun ia pergi. Pernah suatu kali, ia melihat Rosario di tangannya menyala saat ia berdoa dan mati lampu. Peristiwa ini meninggalkan kesan yang mendalam dan sejak saat itu, ia semakin rajin berdoa Rosario.
Dalam satu hari ia bisa tiga kali berdoa Rosario dan mulai aktif di kegiatan gereja, khususnya koor dan tata laksana. Suaminya sudah lebih dulu aktif di kegiatan gereja sejak muda, mulai dari mudika (sekarang OMK – Orang Muda Katolik), koor, dan tata laksana. Sang suami yang berprofesi sebagai anggota kepolisian, Antonius Paryadi, ia harus siap ditinggal berhari-hari untuk menjalankan tugas yang seringkali mengandung bahaya. Ia tidak pernah berhenti mendoakan suaminya, terutama saat ditugaskan di daerah konflik. Suaminya pernah ditugaskan di Aceh, dan beruntung, suaminya sudah kembali ke Jakarta beberapa hari sebelum terjadi gempa bumi dan tsunami melanda Aceh dan sekitarnya.
Pada Mei 2009, Ibu Anton terpilih menjadi Ketua Lingkungan Santo Yusuf. Awalnya ia merasa tidak mampu dan menjadi beban, tetapi dengan dukungan penuh dari suami serta semangat untuk melayani ia menerima tawaran untuk menjadi ketua lingkungan. Tanpa lelah, ia berusaha untuk mengaktifkan seluruh elemen di lingkungannya, dari kaum ibu, keluarga, sampai OMK. Di Lingkungan Santo Yusuf, arisan bagi ibu-ibu diadakan sebulan sekali dan KKS diadakan setiap malam Minggu.
Ia sedang mencoba menggiatkan OMK yang sudah lama vakum. Beberapa waktu lalu, ia dan anaknya, Deddy, mendatangi hampir semua OMK di lingkungan dan mengundang mereka untuk kembali aktif. Ibu Anton merasa dukungan orangtua agar anaknya aktif di OMK sangatlah dibutuhkan karena ia merasa partisipasi orang muda sekarang sangatlah kurang. Orangtua sekarang cenderung mengalah pada anak, seharusnya mereka mendorong anak-anaknya untuk aktif di kegiatan gereja, khususnya OMK. Ia juga ingin mengaktifkan kembali koor yang sudah satu tahun mati suri.
Selain mengunjungi OMK, Ibu Anton juga aktif mengunjungi keluarga yang jarang ikut terlibat dalam kegiatan di lingkungan. Ia mengunjungi dan berdialog langsung dengan warganya. Berbagai alasan ia dapatkan, mengapa ada warga yang enggan aktif dalam kegiatan, mulai dari perasaan minder sampai tidak punya waktu karena hari Senin-Jumat harus bekerja dan Sabtu-Minggu pasti liburan ke luar kota. Untuk alasan yang kedua, ia memberikan solusi, setidaknya sebulan sekali tidak keluar kota dan bersosialisasi di lingkungan.
Dengan semangat melayani yang besar dan dukungan penuh dari keluarga, khususnya suami yang selalu mendampinginya ketika melakukan kunjungan, ia tidak henti-hentinya menyemangati seluruh elemen warganya untuk ikut aktif dalam kegiatan. Selain aktif mengurus lingkungan, ibu Anton juga aktif mengikuti kegiatan olahraga di RT/RW di mana ia tinggal. Berbagai pertandingan olahraga pernah ia juarai, dari bulutangkis, tenis meja, sampai bola voli. Tak heran karena rumah Ibu Anton berada di samping lapangan bulu tangkis yang menurutnya, selalu ramai 24 jam.
Ibu Anton juga sangat memperhatikan lingkungan hidup. Ia merasa, bencana alam yang terjadi selama ini juga merupakan tanggung jawab manusia. Manusia saat ini kurang memperhatikan lingkungan hidupnya. Bangunan bertingkat tinggi dibangun dimana-mana tanpa memperhatikan dampak negatifnya. Daerah resapan air berkurang secara drastis. Kualitas air sekarang semakin buruk. Contoh konkretnya adalah jalan raya di daerah Rempoa yang terus-menerus rusak karena dibeton, padahal masalahnya bukan pada kualitas aspal atau beton yang jelek, tetapi aspal dan beton itu terus-menerus tergerus oleh air yang menggenang. Sistem drainase yang sangat tidak memadai membuat air menggenang dan merusak aspal, yang lebih parah lagi, menimbulkan banjir.
Ia ingin sekali pergi ke Lourdes atau Israel untuk berziarah ke tempat Yesus besar dan dilahirkan. Ia berjanji, jika anak-anaknya sudah selesai menempuh pendidikan, ia akan mulai menabung agar bisa pergi berziarah ke sana. Ia juga bercita-cita ingin membawa Lingkungan Santo Yusuf bersatu dalam doa dan pelayanan serta selalu berkumpul dalam susah dan senang. Tidak terasa wawancara yang Litani lakukan dengan hangat sudah cukup, dan ibu Anton mengantar Litani yang hendak pulang, karena hari semakin malam.
Semoga semua cita-cita ibu yang satu ini bisa tercapai.
Biodata
Nama Panjang : Florentina Yoneta Masiyem
Nama Panggilan : Iyuk (sebelum menikah), Ibu Anton (setelah menikah)
TTL : Yogyakarta, 19 Maret 1964
Suami : Antonius Paryadi
Anak : 1. Deddy Kurniawan
2. Maria Vanny Febiana
Pendidikan : SLTA
Hobi : Olahraga
(Tulisan dan Foto : Andreana Sembiring)
|