Home arrow Artikel arrow ”Tuhan itu baik kepada semua orang” (Mzm 145a)
”Tuhan itu baik kepada semua orang” (Mzm 145a) PDF Print E-mail
Written by Rm. A. Setya Gunawan, Pr   
Thursday, 21 January 2010
Aneka permasalahan yang menerjang negara dan bangsa kita, disusul kemudian dengan bencana di mana-mana, mengakibatkan keadaan negara kita ruwet bagai benang kusut yang tak mudah terurai. Munculnya sosok pemimpin yang diharapkan mampu mengurai benang kusut multikrisis di negeri ini menjadi sebuah kemewahan yang ditunggu-tunggu masyarakat. Kemewahan ini cukup sederhana, namun dalam realisasinya amatlah sulit untuk diwujudkan. Meskipun era Reformasi telah digulirkan dan sekian kali berganti pemimpin, rupanya harapan akan hadirnya pemimpin yang kharismatis masih jauh dari kenyataan. Aneka permasalahan yang menerjang negara dan bangsa kita, disusul kemudian dengan bencana di mana-mana, mengakibatkan keadaan negara kita ruwet bagai benang kusut yang tak mudah terurai. Munculnya sosok pemimpin yang diharapkan mampu mengurai benang kusut multikrisis di negeri ini menjadi sebuah kemewahan yang ditunggu-tunggu masyarakat. Kemewahan ini cukup sederhana, namun dalam realisasinya amatlah sulit untuk diwujudkan. Meskipun era Reformasi telah digulirkan dan sekian kali berganti pemimpin, rupanya harapan akan hadirnya pemimpin yang kharismatis masih jauh dari kenyataan.

Di hari Natal yang bahagia ini, kita menyambut seorang pemimpin dan Raja Alam semesta yang mencintai semua manusia tanpa kecuali. Tuhan Yesus yang datang di palungan adalah wajah Allah yang dapat dilihat dengan mata. Kisah kelahiran-Nya di tengah kesederhanaan para gembala yang dilukiskan dalam Injil Lukas mau mengatakan bahwa Tuhan datang untuk semua orang dalam segala lapisan. Dengan hadirnya di palungan, Tuhan dapat bertemu dengan semua orang baik, orang kecil, miskin, sederhana maupun orang-orang yang berpangkat tinggi, seperti tiga orang Majus dari Timur. Kehadiran-Nya membawa damai dan menyejukkan setiap hati yang merindukan sukacita.

Tuhan itu baik kepada semua orang, orang baik disayanginya dan orang jahat dipanggilnya agar bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Matius 5: 45 menulis: ”Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”.

Natal mengandung sebuah perutusan suci bagi setiap umat Katolik. Dengan merayakan Natal kita ikut ambil bagian dalam perutusan Bapa untuk membawa damai dan sukacita kepada setiap orang yang kita jumpai, lebih-lebih di Indonesia yang saat itu sedang merindukan damai dan ketenteraman.  Di tengah dunia yang setiap hari diwarnai dengan berbagai macam berita yang tidak menyenangkan, umat Katolik yang telah mendengar warta sukacita Natal, diutus untuk memberikan warna lain di tengah masyarakat yakni warta damai dan pengharapan.

Umat Katolik dapat belajar dari pengalaman iman umat Perjanjian Lama. Sejarah bisa dilacak sejak bangsa Yehuda berada dalam pembuangan di Babilonia tahun 587  SM. Selama 50 tahun mereka berada dalam pembuangan, diangkut dan dibawa ke Babilon. Pada tahun 537 SM ada pembebasan. Orang-orang buangan tersebut boleh pulang kembali ke Palestina, ke tempat asalnya. Ternyata yang mau pulang kembali ke tanah airnya tidak banyak. Proklamasi, atau pemberitahuan pembebasan itu ditanggapi dingin dan negatif oleh orang-orang buangan, khususnya orang besar.

Karena orang-orang yang dibuang ke Babilonia adalah para pemimpin, orang-orang yang punya kedudukan, sehingga selama 50 tahun, banyak yang sudah mempunyai kedudukan tinggi, menjadi bupati, orang besar, mereka telah settle dan hidup enak di negeri asing. Mereka hidup enak dan tidak punya masalah ekonomi, dan sebagainya. Mereka berpikir, untuk apa pulang, di negara asing sudah enak karena sudah mendapat kedudukan. Mereka sudah memiliki segalanya, segala kebutuhan terpenuhi, maka merasa tidak ada gunanya untuk kembali ke tanah airnya, yang belum tentu sebaik seperti di negeri asing ini.

Mereka mempunyai segalanya, tetapi mereka kehilangan idealisme, yakni kesetiaan kepada Tuhan yang Esa yang setia, yang telah membebaskan dari penjajahan dan yang telah memberitakan tanah terjanji. Tinggallah sisa-sia kecil, orang-orang miskin, yang tetap miskin, tidak kaya atau tidak mau kaya. Mereka tidak mempunyai apa-apa kecuali “idealisme”.  Inilah yang kembali ke tanah air terjanji, inilah yang disebut “sisa kecil”, yang bercita-cita tinggi untuk membangun Palestina kembali. Idealisme ini isinya: “Percaya kepada Janji Tuhan”, keyakinan bahwa Allah akan campur tangan membantu orang-orang miskin. Akhirnya mereka sampai pada keyakinan bahwa janji Tuhan itu terlaksana dalam “Pribadi Yesus”.

Sebagai wqrga negara yang baik, umat Katolik bisa belajar dari “sisa kecil” yang tetap setia dan memiliki iman kuat akan Tuhan yang maha kasih. Dengan kata lain, umat Katolik yang percaya kepada Kristus diutus untuk menjadi garam dan terang dunia di tengah masyarakat, agar dunia ini tidak hanya diwarnai dengan kecemasan, permusuhan, dan berita-berita buruk, tetapi mewartakan keyakinan bahwa pengharapan akan dunia yang ceria suatu ketika akan terwujud.  

Untuk itu marilah kita mohon berkat Tuhan agar di tengah banyaknya masalah yang terjadi, kita tidak kehilangan arah dan tujuan hidup yang sejati, namun dengan semangat damai Natal, kita ungkapkan rasa optimisme bahwa langit dan bumi yang baru akan muncul dalam kehidupan kita.

Tuhan itu baik kepada semua orang dan tak pernah ingkar janji.

“SELAMAT MERAYAKAN HARI NATAL DAN MENYONGSONG TAHUN BARU 2010”

Salam
Romo Alphonsus Setya Gunawan Pr
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Last Updated ( Thursday, 21 January 2010 )
 
< Prev   Next >

Forum Komunitas

Friend Connect

Kalender Liturgi

Who's Online

We have 4 guests online

Jadwal Misa

Harian
  05.30 WIB
Sabtu
Sore
18.00 WIB
Minggu
Pagi
06.00 WIB
    08.00 WIB
  Sore 18.00 WIB
Jumat I
 
19.00 WIB
Pengakuan
30 menit sblm
Dosa
misa dimulai

Pesan Singkat