|
Written by Rm. A. Setya Gunawan, Pr.
|
|
Saturday, 03 April 2010 |
Bersoraklah, nyanyikan lagu gembira
Bagi Kristus yang menebus kita
Bersyukurlah kepada Allah
Kita bangkit bersama Kristus
Pujian Paskah itu bergema di tengah malam sunyi. Nyala lilin yang menghiasi perayaan Paskah mengusir kegelapan dan menjadi tanda ‘kemenangan’ atas dosa dan maut. Kita bersyukur karena Allah telah membangkitkan Kristus dari alam maut dan menjadi yang sulung mendahului kita masuk sorga.
Kisah kebangkitan yang ditulis oleh keempat penginjl dengan panjang lebar menceritakan dengan panjang lebar bagaimana peristiwa itu terjadi.
Lukas 24:1-6 menulis : “…tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “ Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada disini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”
Malaikat Tuhan sendirilah yang memberi warta kebangkitan kepada wanita-wanita yang pagi-pagi pergi ke makam. Mereka membawa rempah-rempah untuk membersihkan jenazah Yesus agar dapat dimakamkan dengan pantas. Tetapi, suasana duka itu berubah menjadi sukacita karena Kristus telah bangkit dan hidup.
Kebangkitan Kristus telah mengubah seluruh hidup para murid Kristus. Yang takut menjadi berani, yang ragu menjadi percaya dan mereka mewartakan kebangkita Kristus ke seluruh dunia. Mereka bangkit bersama Kristus, berubah arah dari manusia lama dalam dosa menjadi manusia baru dalam sukacita sempurna.
“Kita bangkit bersama Kristus”, itulah nyanyian yang menjadi pujian Paskah kita. Nyanyian itu mengajak kita untuk bangkit dan meninggalkan manusia lama menuju pembaharuan hidup dalam Kristus. Pembaharuan itu kita nyatakan secara lantang, jujur, dan mantap dalam pembaharuan ‘janji bapris’, yakni untuk melaksanakan amanat Tuhan yang telah kita persiapkan selama 40 hari masa Prapaskah.
“Mari Bersama Melawan Kemiskinan” menjadi tema selama masa puasa. Bersama seluruh umat Katolik se-KAJ, kita diajak untuk melaksanakan aksi nyata memberantas kemiskinan. Mungkinkah itu bisa dilaksanakan? Umat Katolik sekeuskupan dalam kebersamaan pasti bisa mengamalkan ajakan bapak uskup. Ajakan itu akan terasa berat bila kita bekerja sendiri-sendiri. Marilah kita melihat bersama di sekitar, apakah masih ada orang yang tidak bisa makan, tanpa papan, dan pakaian. Yesus bersabda: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).
Dengan merayakan Paskah bukan berarti selesai segalanya, tetapi justru sebaliknya. Dengan perayaan Paskah kita akan mulai melaksanakan dan merealisasikan niat-niat suci yang telah diikrarkan dalam permenungan kita selama masa puasa, sehingga masa Prapaskah dan perayaan Paskah tidak berhenti pada permenungan suci saja, tetapi harus dilanjutkan dengan kegiatan nyata di tengah umat dan masyarakat.
Semoga berkat kebangkitan Kristus, kita memperoleh rahmat berlimpah dalam mengabdi Tuhan dan sesama dan semoga rahmat sakramen baptis yang kita perbaharui disucikan kembali dan siap untuk bersama membangun Gereja yang mandiri dan berdaya pikat.
Selamat merayakan “Kebangkitan Tuhan”.
Tuhan memberkati.
Romo Alphonsus Setya Gunawan, Pr.
|
|
Last Updated ( Sunday, 04 April 2010 )
|