Tahun Imam adalah Kairos (waktu yang tepat). Tidak sekadar karena imam-imam tengah banyak masalah, oleh karena itu butuh waktu khusus untuk pemurnian, tetapi lebih dari itu adalah sebagai waktu yang tepat untuk menjadi more be obidience, yakni menjadi semakin taat pada Allah karena membalas cinta Allah. Taat berarti penuh hormat pada Allah dalam PuteraNya Yesus, Sang Pengantara yang menjadi Man for God dan Man for Others, Manusia bagi Allah dan Manusia bagi sesama/semua orang. Yesus adalah Allah yang memberi dan memberi sampai sehabis-habisnya (given). Yesus adalah Imam Agung yang Mahabesar dan setia-dekat dengan Allah dan berbelaskasihan kepada manusia.
Maka, tahun imam yang direnungkan dan dihidupkan selama satu tahun menjadi peristiwa rakhmat bagi para imam untuk berefleksi, berekreasi, menyegarkan semangat pelayanan. Syukur ada banyak aksi untuk memaknai tahun imam. Satu rakhmat besar bahwa retret besar dalam rangka Tahun Imam dapat terlaksana pada 7-11 Juni lalu, di Vila Via Renata, Cipanas, Jawa Barat, berkat jasa baik kelompok Lumen 2000 dan Badan Kerja Sama Bina Lanjut Imam Indonesia (BKSBLII). Retret besar itu menampung sampai 208 imam dari berbagai keuskupan dan tarekat di seluruh Indonesia dipimpin secara mengagumkan oleh Mgr. I. Suharyo Pr. Di sana, dapatlah dirasakan suasana persaudaraan dan keakraban. Para imam dari berbagai keuskupan dan serikat berkumpul dan saling kenal. Saat kebersamaan itu diisi dengan perkenalan, merenung, makan bersama dan malam pentas bersama yang kreatif dan penuh humor, dan juga doa, ekaristi, dan adorasi bersama. Betapa indahnya merenungkan tahun imam bersama teman-teman; seimamat, dan seperjuangan dalam pelayanan.
Selama retret berlangsung Mgr. Suharyo mengajak peserta untuk mengenal Yesus secara makin mendalam seperti yang dikisahkan Penginjil Matius. Dengan tafsir dan refleksi mengantar pada pengenalan yang makin mendalam akan Yesus yang diceritakan para penginjil sebagai Allah yang selalu menyertai umatNya dan juga Allah yang selalu hadir dalam diri orang-orang miskin dan telantar. Relasi pribadi dengan Yesus sebagaimana dalam Kitab Suci sangat penting karena itu yang membangkitkan cinta mendalam pada Yesus yang tampak dan dijumpai sehari-hari. Ignorantia Scriptura, Ignorantia Christi Est: Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Yesus. Dari situ kita bisa melihat makna imamat sebagai tahbisan dan perutusan, yakni perutusan untuk menjadi Gembala yang Baik, yang memberi diri dan bukan untuk mendapatkan sesuatu.
Para imam diajak masuk dalam satu bingkai yakni Allah yang menyertai, Immanuel. Pengalaman akan Allah yang menyertai dan memberkati umatNya melahirkan rasa syukur yang besar. Jadi, benang merah yang dapat ditangkap adalah bahwa apa pun pengalaman umat khususnya para imam, semua itu harus ditempatkan dalam bingkai Allah yang selalu menyertai saya dalam pengalaman apa pun; pengalaman jatuh-bangun, baik-buruk, suci-berdosa, semangat-malas. Semua pengalaman manusiawi itu haruslah ditempatkan atau dilihat dengan satu kacamata dan memandang ke arah satu bingkai saja yakni bingkai Allah yang menyertai saya.
Apa itu syukur. Syukur seperti pengalaman Bunda Maria adalah gembira dan mewartakan Allah yang menyertai itu, terutama kepada mereka yang miskin dan telantar, di mana dalam diri mereka Yesus selalu mengidentifikasikan diriNya. “Segala sesuatu yang kamu perbuat untuk salah seorang saudaraKu yang paling hina ini, itu kamu lakukan untuk Aku” (Mat. 25).
Jadi, Tahun Imam adalah Kairos untuk merenungkan rakhmat imamat dalam Gereja. Imam adalah pendoa Gereja dan teladan hidup sederhana. Hidup sederhana membantu untuk dapat melihat orang miskin; untuk menetapkan arah dan memantapkan langkah menjadi seorang gembala yang baik, “Gembala yang baik memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatNya” (Yoh 10:11). Itu membuka kemungkinan juga untuk menjadi martir-martir dalam komunitas-komunitas apa saja. Mungkin tidak harus mati, tetapi bahwa dengan kokoh dan teguh memperjuangkan yang baik, benar, dan suci akan mendatangkan banyak tantangan dan derita.
Singkat kata, dengan peristiwa berharga ini harapannya adalah agar menjadi semakin setia seperti tema yang diumumkan Paus Benediktus XVI, “Kesetiaan Kristus, Kesetiaan Imam”. Dengan kata lain untuk menjadi semakin taat dalam cinta kepada Allah dan keselamatan semua orang, more be obidience. Taat bukan karena takut, tapi taat karena hormat dan cinta pada Tuhan dan pekerjaan-pekerjaanNya. “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan yang lainnya akan ditambahkan kepadamu”. Dengan kata lain, setia dan taat dalam kegembiraan, gembira dan berbuah/bermakna dan membawa kehidupan bagi banyak orang. Ora et Labora kiranya penting diperhatikan karena dengan demikian dapat dengan lebih jelas melihat Yesus yang tampil nyata dan gampang dikenal. Kesaksian seperti ini akan memberi dampak pada tidak adanya krisis jumlah panggilan imam.
Kesimpulannya, saat retret menjadi waktu yang tepat untuk menjadi semakin taat pada Allah, more be obidience, karena cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah dengan kasih, kesetiaan, dan ketaatan membuat seorang imam sungguh pengantara seperti Yesus sendiri yakni “Dekat dengan Allah dan berbelaskasih kepada sesama”. Itulah teladan Sang Gembala Agung yang patut diteladani baik dalam karya pelayanan sakramental maupun dalam karya penggembalaan seturut teladan Yesus yang memberikan nyawaNya untuk semua orang. Imam yang dicari dan didamba umat adalah imam yang dekat dengan Allah dan berbelaskasih kepada manusia, khususnya yang paling miskin, lemah, dan telantar.
(Romo Plasidus Pole Unaraja, C.Ss.R)
|