|
Written by Chris V.
|
|
Sunday, 18 July 2010 |
Rekoleksi Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi
”Tujuan dari rekoleksi ini adalah agar para penerima bantuan dari Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi harus menyadari bahwa mereka seharusnya bisa berusaha dan tidak selalu menerima bantuan dari paroki atau bisa juga mereka suatu saat menjadi pemberi bantuan kepada yang lainnya, dan tidak selamanya mengharapkan bantuan dari paroki karena banyak juga yang harus dibantu baik berupa pendidikan, natura, dan perumahan kepada warga yang lainnya lagi, dan mereka harus memiliki ruang berusaha sendiri nantinya, dan pada saatnya nanti penerima bantuan dari PSE akan berkurang sedikit demi sedikit,” kata Ketua Seksi PSE Bapak Andreas Kurniawan Udjaja ketika membuka rekoleksi.
Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi atau banyak yang menyebut PSE mengadakan rekoleksi kepada para penerima bantuan, baik penerima bantuan natura, pendidikan, maupun biaya mengontrak rumah pada Sabtu pagi, 20 Juni, di Rumah Rekoleksi Civita, Ciputat, yang diikuti 50-an peserta, acara berlangsung mulai pukul 09.00 sampai 16.00 dan ditutup dengan misa yang dipimpin oleh Romo Plasidus Pole Unaraja C.Ss.R dan Hugo Umbu Raga Pr dari Keuskupan Weetebula, Sumba, dan bertindak selaku pembawa acara rekoleksi Bapak Andreas Hasto Pranowo yang merupakan warga Lingkungan Santo Basilius Agung dan sudah dianggap penasihat bagi PSE, ini merupakan kedua kalinya PSE mengadakan rekoleksi, tahun lalu di Sukabumi diadakan khusus untuk para pengurusnya dari tingkat lingkungan hingga paroki.
”Kami dari Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi mengharapkan, dengan adanya rekoleksi ini kita dan para penerima bantuan akan saling mengenal satu dengan yang lainnya, PSE juga mengharap dengan adanya rekoleksi ini para penerima bisa memiliki wawasan berusaha dan termotivasi dengan penjelasan yang disampaikan oleh pembawa acara, PSE pun akan berusaha sebisa mungkin membantu para warga yang memang perlu dibantu semampunya karena PSE juga memiliki keterbatasan, tidak semua bantuan yang diajukan oleh para pengurus lingkungan bisa kami penuhi untuk warganya, karena PSE selektif dan menyurpey calon penerima terlebih dahulu,” katanya lagi.
Ide dari rekoleksi ini datang dari ketua seksi sendiri karena terinspirasi dari sebuah yayasan yang rutin dia lihat di sebuah televisi, ”saya ingin para penerima bantuan ini termotivasi dari tayangan yang ada, banyak dari penerima bantuan sosial itu, mereka per keluarga dibuatkan sebuah tabungan atau celengan dari bambu, bambu itu tempat mengumpulkan uang yang setiap hari diisi entah Rp 500, Rp 1.000, atau lebih, suatu ketika uang itu dikumpulkan dan dikembalikan kepada yayasan dimana mereka mendapatkan bantuan, nah dengan inspirasi ini, kami selaku pengurus juga menginginkan hal serupa kepada warga yang menerima bantuan dari PSE, agar mereka menyontoh ide ini dan uangnya akan kita kembalikan kepada mereka yang sangat membutuhkan juga, karena kan tidak selamanya mereka akan menerima bantuan dari PSE,” ujarnya.
”Saya selaku penerima bantuan pendidikan dari PSE sangat berterima kasih walaupun bantuan dalam bentuk uang tidak mencukupi untuk biaya SPP dalam sebulan kepada tiga anak saya, tetapi dari tiga anak saya yang menerima bantuan itu, ya pintar-pintarnya mengelola uang saja, kadang harus ada yang tidak membayar biaya pendidikan untuk satu anak, tetapi dua anak membayar penuh biaya pendidikannya, namanya bantuan yang kita terima besarnya segitu yah… mau apalagi kita ini, mau menuntut pun kita tak pantas ya…” kata ibu yang menerima bantuan pendidikan untuk ketiga anaknya ketika berbincang dengan Litani.
(Chris V)
|
|
Last Updated ( Wednesday, 02 February 2011 )
|