|
Written by Chris V.
|
|
Friday, 13 August 2010 |
Sejak dimulai 18 Juni 2009 sampai dengan penutupannya secara serentak di Keuskupan Agung Jakarta 12 Juni 2010, berakhir pula masa tahun imam. Kami bersyukur bahwa Paroki Santo Nikodemus berhasil menyelenggarakan kegiatan tersebut, walau awalnya kami rancu dengan istilah tahun imam. Apakah panggilan untuk menjadi imam? (sehingga pada paroki lain sebagai ketuanya ditunjuk dari Seksi Panggilan) atau meningkatkan peran imam di masyarakat? (maka ada paroki yang menunjuk seksi HAAK sebagai panitia tahun imam. Syukur sejak awal, panitia berpandangan bahwa yang penting adalah mendoakan para imam.
Dalam perjalanan, beberapa kegiatan telah dilaksanakan walau tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan panitia. Panitia berhasil mengundang beberapa imam dari luar paroki untuk berbagi pengalaman hidup dan panggilan sebagai imam. Panitia juga mencoba mengkoordinasi Sie BIA Wilayah/Lingkungan untuk pada misa anak dimainkan tablo yang menceritakan bagaimana peran imam bagi umat; semuanya dengan harapan banyak kaum kita yang tertarik menjadi imam. Panitia dengan Romo Ferdinandus Apolonius Djaga Kota C.Ss.R membuat doa imam, yang dirancang agar dapat disimpan dalam dompet setiap anggota umat; sehinga setiap saat diamanapun dan kapanpun dapat didoakan baik secara sendirian maupun secara bersamaan dalam tiap kegiatan doa lingkungan. Di tingkat Dekanat Tangerang pada 2 Mei 2010 , panitia bersama paroki se-Tangerang berhasil menyelenggarakan kegiatan di Stasi Santo Laurensius, berupa seminar, talk show, dan pameran, yang ditutup dengan misa konselebrasi. Yang paling membanggakan adalah penyelengaraan Kain Kafan Turin berupa seminar pada Rabu-Jumat, 10-12 Februari dan pameran selama seminggu pada Minggu-Sabtu, 7-13 Februari. Tapi ada satu hal yang membuat panitia sedih.
Seorang imam adalah seorang manusia biasa. Mereka bukan superman dan bukan pula malaikat. Mereka mempunyai hati manusia biasa, manusia normal. Mereka memiliki perasaan kesepian, perasaan tertekan, perasaan ditinggalkan, ada perasaan bersalah, ada rasa lelah dan jemu, bahkan rasa kekeringan hidup sebagai imam. Mereka punya selera manusia biasa. Tetapi, kita sering memandang mereka lebih dari idol. Kita anggap mereka makhluk yang tidak boleh punya salah, sehingga kalau ada sedikit kesalahan bukannya dibantu, malahan sering kali dipojokkan, digosipkan, dicerca, bahkan dicibir. Mereka memerlukan juga bantuan kita. Jumlah imam tidak banyak, maka jangan membuat seorang imam harus keluar dari hidup imamatnya hanya karena kita menyebar luaskan gosip yang belum tentu benar. Kita tahu sulitnya mengajak kaum muda untuk menjadi imam, maka jagalah imam yang sudah ada.
Akhir kata, panitia mengucapkan banyak terima kasih segala bantuan dan kerja umat, sehingga kegiatan tahun imam di paroki kita dapat berjalan. Tuhan memberkati.
|