Pengadilan Terakhir
Written by Rm. A. Setya Gunawan, Pr.   
Thursday, 17 December 2009
pengadilan.jpgDalam beberapa minggu terakhir ini rakyat Indonesia disuguhi berita-berita menghebohkan yang terjadi antara petinggi negara  atau para penegak hukum Indonesia. Proses pengadilan itu bak sinetron tingkat tinggi yang penuh dengan drama-drama, adegan-adegan yang mendebarkan, perang urat saraf yang menegangkan, data atau bukti saling berbenturan dalam pengadilan. Tak hentinya mereka  saling mengklaim kebenaran.

Rupanya tidak ada kerendahan hati dalam hukum, tidak ada moral yang menjadi pertimbangan pengadilan, tidak ada nurani bening mewarnai mereka, semua ingin mencari menangnya sendiri. Kalau perlu memakai akal busuk dan rekayasa tingkat wahid bahkan nyawa orang tak bersalah dikorbankan untuk menghancurkan lawan politiknya.

Malu untuk mengakui kesalahan, berbagai jurus licik dengan teknik memutar balik fakta dalam tingkat tinggi, tidak menjadi haram dalam mencari kemenangan di pengadilan. Bukan benar dan salah yang dicari, tetapi menang dan kalah. Siapa yang kalah atau menang? Yang jelas rakyat dibuat terperangah saat melihat  perilaku para penegak hukum yang telah merobek-robek hukum itu sendiri. Tidak jarang mereka mengucapkan ’sumpah’ dengan begitu mudah, menyebut nama Tuhan tanpa takut. Mengerikan! Sumpah itu hanya menjadi sebuah retorika murahan, pada saatnya diingkari, tragis!, memalukan! Kepada siapa lagi rakyat harus mencari keadilan, sementara para penegak keadilan justru menjadi pelaku ketidakadilan?

Ada pepatah yang mengatakan: Gajah sama gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah-tengah. Para penegak hukum pada berkelahi sendiri, dan rakyat menjadi penonton dan menjadi pelengkap penderita, sementara para koruptor melonjak kegirangan. Masihkah ada ’keadilan’ di bumi Indonesia ini? Rupanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang menjadi sila ke-5 dari Pancasila, masih jauh dari kenyataan. Tergila-gila akan uang, harta, kekayaan dan kenikmatan duniawi menjadikan orang lupa akan nilai, harkat, dan martabat manusia yang seharusnya dijunjung tinggi dalam peradaban bangsa.

Gonjang-ganjing yang terjadi di pengadilan, mengingatkan kita umat beriman akan kisah Injil tentang ’pengadilan terakhir’. Wejangan Eskatologis yang dikisahkan oleh Injil Matius 25:31-46 memberikan pesan moral kepada kita yang masih hidup di dunia ini, agar senantiasa berbuat kasih kepada sesama. Perbuatan kasih yang merupakan ungkapan dan wujud iman akan Allah yang telah lebih dahulu mencintai kita, menjadi tolok ukur dalam pengadilan terakhir kelak. ”Ketika Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya (lih ayat 31), Ia akan membagi semua bangsa ke dalam dua kelompok.

Mereka yang melakukan pekerjaan baik bagi salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini akan terberkati (Ayat 34-40), tetapi mereka yang tidak melakukan hal itu bagi salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini (Ayat 45) akan dihukum. Pekerjaan baik yang dimaksudkan adalah memberi makan kepada yang lapar, memberikan tumpangan kepada yang tidak punya rumah, pakaian kepada yang telanjang, menghibur yang sakit dan mengunjungi di penjara. Pekerjaan ini layak mendapat hadiah pada pengadilan akhir karena hubungan identitas antara Anak Manusia dan yang paling hina. Apa yang kita buat di dunia akan ikut menentukan kehidupan kelak.

Pengadilan terakhir mengambarkan ’keadilan Allah’ yang tidak pernah bisa ditemui di dunia ini. Pengadilan terakhir adalah pengadilan yang sempurna, tanpa ada rekayasa, tanpa ada suap menyuap, dan tanpa pilih kasih, karena Allah adalah kesempurnaan.

Umat yang mencintai Allah yang maha adil, akan senantiasa mengikuti jalan kebenaran menuju kehidupan kekal. Kristuslah jalan menuju sorga bagi seluruh umat manusia. Marilah kita ikuti Kristus yang menuntun kita menuju kebenaran, agar kita tidak mudah tersesat oleh tawaran-tawaran duniawi yang menyesatkan. Kita berdoa agar kita -umat Katolik-senantiasa dianugerahi hati yang bening dan jernih untuk tetap memilih keadilan dan kebenaran sejati selaras dengan ajaran Tuhan Yesus. Kita juga berdoa bagi bangsa Indonesia khususnya para penegak hukum agar mereka diberi hati nurani yang bening dan jujur, agar tidak silau dan tergiur dengan segala kemewahan dan kenikmatan  duniawi  sehingga mengorbankan orang lain yang tidak berdosa.

Semoga negara dan bangsa Indonesia diberi berkat oleh Tuhan sehingga keadilan dan kebenaran sejati semakin terwujud nyata demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

(Romo Alphonsus Setya Gunawan, Pr)
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Last Updated ( Thursday, 17 December 2009 )