24 Desember 2006, merupakan malam Natal pertamaku sebagai seorang imam. Malam Natal ini merupakan yang berkesan dan melahirkan sebuah penghayatan yang berbeda dari malam Natal yang pernah kualami.
Setelah ditahbiskan tanggal 8 Agustus 2006, saya dipercaya menjadi pastor rekan di Paroki Homba Karipit, Keuskupan Weetebula (Sumba). Umat di paroki ini berjumlah 12 ribuan keluarga (ini baru yang tercatat) yang terbagi dalam 8 lingkungan di stasi pusat dan 8 stasi. Stasi-stasi ini berjarak mulai dari 5 km sampai dengan 25 km. Kondisi jalan juga beragam; mulai dari yang beraspal sampai jalan tanah dan berlumpur serta becek jika musim penghujan tiba.
Karena jumlah stasi yang demikian banyak dan jarak tempuh yang cukup berjauhan serta jumlah imam yang terbatas, paroki membuat kebijakan misa untuk perayaan Paskah dan Natal. Kebijakannya yakni bahwa stasi-stasi ini dibagi dalam tiga (3) rayon; dan misa Natal–Paskah akan dirayakan sebagai rayon dengan konsekuensi mencari imam tambahan–selalu ada imam yang berkenan. Diharapkan bahwa dengan pembagian rayon ini umat dapat merayakan Natal–Paskah dengan baik. Namun, sebenarnya lebih banyak umat yang tidak dapat merayakan Natal–Paskah sebab jarak yang berjauhan dan alat transportasi yang tidak ada–bukan tidak cukup, termasuk juga takut meninggalkan rumahnya sebab ada kemungkinan setelah pulang dari misa ada beberapa harta benda yang lenyap dicuri orang.
Syukur kepada Allah bahwa pada Natal saat itu (2006), ada dua orang imam yang bersedia membantu di paroki. Dengan jumlah ini, kami bisa menentukan stasi yang dapat dilayani secara khusus. Karena saya yang menyusun jadwal misa, maka saya menempatkan pastor kepala di pusat paroki dan dua orang imam tamu di dua rayon lain. Saya sendiri memilih misa malam Natal di sebuah stasi yang jauh dan yang belum pernah merayakan Natal atau Paskah yang bernama Stasi Noha yang jaraknya 25 Km.
Beberapa minggu sebelum perayaan Natal, saya memberitahukan pada pembina umat bahwa akan diadakan misa malam Natal di stasinya. Pembina umat sangat senang. Matanya memandang saya dengan sedikit tidak percaya, heran, namun wajah sangat cerah (mungkin lebih sedikit mirip dengan Santa Elisabeth ketika menerima kunjungan Maria dan Yesus dalam kandungannya. Mungkin bedanya adalah bahwa tidak ada anak dalam kandungannya yang melonjak kegirangan sebab dia laki-laki. Dia menanyakan apa yang perlu disiapkan. Saya menjelaskan bahwa misa diadakan seperti hari minggu dengan lebih meriah. Beberapa hari kemudian ketika berjumpa di pasar, pembina umat menanyakan apakah boleh membuat kandang natal di dalam kapel. Dengan penuh gembira dan yakin, saya mengiyakannya.
Sejak persiapan Natal sudah menyertai saya. Saya terlibat dalam persiapan di paroki (stasi pusat). Kami membersihkan gereja, memotong rumput di halaman, dan persiapan liturgis lainnya. Bahkan sampai membantu memperagakan tarian perempuan kepada peserta. Pokoknya sibuk dan menggebu-gebu dalam bekerja ini. Sebuah kebahagiaan seorang imam yang baru ditahbiskan dan yang baru pertama kali akan merayakan Natal sebagai seorang imam.
Menjelang saat sore dan detik-detik malam Natal tiba, ada sebuah rasa yang muncul dalam hati ini, sangat kuat, yakni rasa kurang bergairah. Kok, saya harus jalan jauh ke Noha untuk merayakan Natal? Kenapa saya menentukan merayakan Natal di kota ini? Pasti umat yang akan hadir sedikit nantinya! Suasana hati ini semakin kurang bergairah sebab hujan gerimis turun dengan tidak henti-hentinya. Namun, karena dorongan sebagai seorang imam yang harus melayani, saya berangkat ke Noha.
Dengan iringan derai hujan, saya berangkat seorang diri. Motor Honda GL Pro memecah kesunyian (knalpotnya sudah tidak layak dan motornya sudah agak rusak). Bunyi jangkrik dan kodok menyerbu masuk dalam telinga di antara bunyi motorku. Bukit dan lembah kujalani. Perlahan, namun dengan sangat pasti, kegelapan malam dan dinginnya udara menyelimutiku. Rasa sendiri dan hanya seorang diri mampir dalam hati dan pikiranku. Rasanya jalan semakin licin dan lumpurnya semakin banyak, kesunyian semakin terasa dan hujan semakin lebat; badanku mulai basah dan lembab.
Derai hujan menambah tantangan untuk penglihatan mataku; hujan membuat embun pada masker helm yang kukenakan, ketika kubuka maskernya, kaca mataku membuat jalan rasanya lebih berkabut, dan ketika kubuka kaca mata, mata minusku rasanya sedikit lebih menonjol dari biasanya supaya bisa memastikan jalan yang benar. Dan, semuanya rasanya semakin sulit. Perjalanan terasa semakin jauh dan lama.
Ketika, sampai di stasi, beberapa umat sudah menunggu. Sambil menunggu umat yang belum datang, kami berbincang-bincang dengan penuh kebahagiaan–saya terlarut dalam kebahagiaan ini. Kami duduk di atas bangku-bangku yang terbuat dari dua buah bambu yang diikat sejajar menjadi satu. Setelah beberapa saat menunggu, beberapa umat mulai berdatangan dan kami siap memulai misa.
Ketika saya maju untuk mempersiapkan diri di altar (tidak ada sakristi sehingga semuanya disiapkan di altar), saya melihat kandang natal. Saya langsung teringat akan pertanyaan pembina umat tentang pembuatan kandang natal di dalam kapel. Saya bingung apakah mau tersenyum atau sedih atau heran atau .... sebab kadang natal tersebut adalah sebuah rumah mini dengan atap ilalang. Dan isinya.... rumput. Hanya rumput. Rumput yang hijau segar, tanpa bunga, tanpa batu, apalagi patung. Hanya rumput. Itulah kandang natal di stasi ini.
Pada saat itu juga saya tersadar, bahwa umatku datang dengan pakaian/kain terbaik mereka (walaupun sudah beberapa kali dipakai dan sudah agak lama); rambut dan pakaian mereka menyisakan butiran hujan sebab ketika datang ke gereja mereka mengenakan penutup kepala dan tubuhnya adalah daun keladi (seperti daun talas); sandal terbaik mereka atau kaki terbaik mereka (sebab tidak punya sandal apalagi sepatu) berlumpur sebab pasti melewati jalanan becek dan genangan air. Mereka tetap gembira untuk datang ke misa malam Natal pertama kami (saya sebagai imam dan mereka sebagai umat). Atap kapel dari seng yang bocor dimakan usia, membuat sepanjang misa tersebut bagaikan diberi air berkat, dan dinding gedek, anyaman dari bambu, yang sudah bolong dimana-mana sehingga air hujan bisa menerobos, tidak menjadi penghalang. Penerangan menggunakan lampu dengan daya dari aki mobil yang hampir padam menjadi penerang yang paling terang.
Saya menjadi sadar dan bersyukur bahwa inilah Natalku, Natal kami, Natal kita. Pada kesederhanaan yang penuh kekayaan inilah Yesus lahir. Dalam kekosongan inilah, manusia diisi; ketika gairah rumput hijau hati menghampar memberikan diri untuk ditinggali. Pada suasana yang kurang bergairah, jauh dari kemuliaan, dingin, lembab, gelap, sunyi, Yesus lahir membakar gairah, memberikan kemuliaan, memeluk hangat setiap insan, menjadi bintang kehidupan dan menghadirkan sahabat yang nyaman untuk disapa. Yesus lahir sebagai penyelamatku. Dia menjadi penyelamat gairahku, penyelamat Natalku dan penyelamat hidupku. Dan, pasti juga Ia mau menjadi penyelamatmu.
Dengan kesadaran ini, saya penuh gairah memimpin perayaan misa. Dengan penuh semangat, umat mengikutinya. Walau dengan pembagian suara yang terdiri dari belasan suara, not yang salah dicipta dan kanon yang kurang beraturan, kami menyanyikan lagu-lagu terindah yang bisa kami berikan. Kami buang pembatas dunia yang membuat kami kurang dapat memuji dan merasakan kemuliaan Tuhan. Seperti para gembala yang gembira mendengar kabar baik kemuliaan Tuhan yang menyapa manusia, hatiku bersorak gembira menerima Natal ini. Bagaikan para gembala yang melihat terang Malaikat Allah, saya melihat terang arti Natal.
Saya sungguh merasakan sebuah kebahagiaan. Terima kasih Tuhanku karena memberikan yang terbaik buatku dan umatmu.
Setelah misa selesai, kami saling bersalaman dan mengucapkan selamat Natal. Kemudian, saya kembali ke pusat paroki. Cuaca masih sama, hujan, gelap, sunyi, jalanan licin, dan sendirian, tetapi damai Natal menyertaiku, Yesus menyertaiku, Imanuel. Sepanjang perjalanan, hatiku bernyanyi, hujan gerimis memberikan suasana mistis, bunyi jangkrik dan kodok mengambil bagian dalam pembagian suara koorku. Tanpa kusadari, saya tersenyum sendirian sepanjang jalan.
Terima kasih Yesus karena Engkau memberikan Natal yang indah buat kami.
Sesampai di pastoran, kuucapkan pada teman-temanku:
“SELAMAT NATAL. TUHAN MEMBERKATIMU”
Salam
Ferdinandus Apolonius Djaga Kota C.Ss.R
|