“Beristirahatlah Sejenak!” (Mrk 6:31)

 

Seorang pria paruh baya dan seorang pemuda mulai menebang kayu pagi-pagi buta. Mungkin karena tenaganya sudah tidak terlalu besar, setiap 50 menit, si pria paruh baya akan istirahat selama 10 menit lamanya. Sedangkan si pemuda, mungkin karena tenaganya yang masih kuat, ia tidak pernah beristirahat sedetikpun dan hanya terus bekerja. Ketika waktu bekerja selesai, si pemuda menyadari suatu hal yang mengejutkan. Hasil kayu yang ditebang pria paruh baya jauh lebih banyak dari yang ia tebang. Kemudian, si pemuda tersebut bertanya kepada pria tersebut untuk belajar darinya.
Lalu, si pria paruh baya itu menjawab, “Istirahat juga merupakan sebuah pekerjaan. Selain bisa memberikan pasokan tenaga yang cukup bagi tubuh, istirahat juga bisa mengasah energi yang kita miliki.” “Bekerja dan belajar dengan gigih memang bagus, akan tetapi alangkah lebih baik lagi jika disesuaikan dengan beristirahat. Tubuh kita juga memiliki batas dan kemampuan tertentu ketika digunakan. Ketika batas tersebut sudah hampir terlampaui, beristirahatlah. Itu adalah cara yang paling baik untuk membuat tubuh kembali bertenaga.”

Menurut Injil murid-murid Yesus pulang kepada Yesus sesudah melaksanakan perutusan mereka, untuk memberi laporan tentang apa yang telah mereka ajarkan dan lakukan kepada orang banyak. Mereka diajak Yesus ke tempat sunyi untuk menyendiri. Mereka naik perahu, supaya jangan diikuti orang banyak itu. Istirahat ini sangatlah dibutuhkan oleh para murid yang baru saja melaksanakan perutusan Yesus. Yesus mengajak mereka pergi ke tempat yang sunyi dan beristirahat, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Mrk 6:31). Melalui istirahat, Yesus ingin agar para murid bisa segar kembali dan akhirnya semangat untuk melanjutkan tugas perutusan mereka.

Dalam kesempatan istirahat itulah, Yesus ingin agar para murid bisa melihat kembali perjalanan mereka dalam melakukan tugas perutusan. Melihat kembali sukacita yang mereka rasakan selama melayani banyak orang. Melihat kembali ekspresi orang-orang yang mereka layani. Hal ini tentu saja, menjadi penting dalam menjalani tugas perutusan agar semua yang telah dilakukan tidak berlalu begitu saja tetapi menjadi inspirasi untuk bertindak di kemudian hari. Oleh karena itu, kita pun juga diajak untuk beristirahat sejenak (sejenak saja tidak usah terlalu lama) dan melihat kembali perjalanan pelayanan kita dalam hidup sehari-hari. Dengan cara itu, kita bisa menemukan kekuatan dari pelayanan dan juga memperbaiki kesalahan dan kekurangan dalam pelayanan kita.

Sayangnya, Yesus dan para murid gagal untuk beristirahat karena kehadiran banyak orang. Yesus yang begitu tergerak oleh belas kasihan lebih memilih untuk melayani orang banyak daripada meneruskan istirahat Mereka. Itulah hebatnya, Tuhan Yesus Kristus, selalu mau melayani orang banyak meskipun kelelahan dan kelaparan. Dia selalu tergerak oleh belas kasihan untuk orang lain hanya karena Dia mengutamakan orang lain lebih daripada DiriNya sendiri. Beranikah kita bertindak demikian?
Tuhan memberkati,
Rm. B. Dimas Indragraha, Pr